Lebih parah lagi, banyak dari mereka berubah jadi gelandangan politik. Kerjaannya ribut di media sosial, bikin meme, jadi buzzer. Kalau bos yang didukung menang pilpres, langsung naik pangkat jadi staf ahli atau komisaris. Ironisnya, mereka lebih sering memproduksi hoaks dan gosip ala emak-emak komplek daripada jurnal riset. Inilah tragedi pendidikan tinggi Indonesia: dari beasiswa rakyat, hasilnya malah jadi konten kreator politik.
Matematika dan Fisika: Dari Saya ke Generasi Berikutnya
Jadi mari kita kembali ngopi pagi, membicarakan kelemahan saya di bidang matematika dan fisika. Untungnya, ada harapan: putra saya yang paling tua justru cemerlang di bidang fisika dan matematika. Ia berhasil lulus teknik sipil, meski dari perguruan tinggi swasta. Hasil tes IQ-nya juga menunjukkan kemampuan kuat di bidang STEM. Ketika saya dorong melanjutkan kuliah S2, jawabannya sederhana: “uang lebih penting daripada ijazah.”
Itulah salah satu penyebab generasi muda Indonesia tidak berlomba-lomba di bidang pengetahuan. Mereka lebih suka mencari jalan pintas pragmatis. Meski begitu, saya tetap optimis: suatu saat akan kembali era di masa awal kemerdekaan, ketika manusia Indonesia lebih haus ilmu daripada haus jabatan.
