Harapan saya lainnya: suatu hari lahir yayasan filantropi desa yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi sederhana. Dari desa bisa lahir pemikir besar, ahli matematika, bahkan fisikawan yang menciptakan mesin cerdas lebih pintar dari Grok atau ChatGPT. Desa yang modern tapi tetap tradisional, dengan masyarakat yang gemar membaca, menulis, dan berdiskusi.
Itulah imajinasi saya tentang Indonesia: negara yang bukan hanya pandai bikin meme politik, tapi juga menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
Referensi
1. Benedict Anderson, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia (Cornell University, 1971).
2. John Roosa, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia (University of Wisconsin Press, 2006).
3. Hilmar Farid, “Indonesia’s Original Sin: Mass Killings and Capitalist Expansion, 1965–66,” Inter-Asia Cultural Studies, 2005.
4. Tempo Magazine, “Mereka yang Tak Bisa Pulang: Kisah Eksil 1965” (Edisi Khusus, 2015).
5. Kompas, “Generasi Z dan Tren Membaca: Toko Buku Kembali Ramai” (2024).
6. David Bourchier, Illiberal Democracy in Indonesia: The Ideology of the Family State (Routledge, 2014).
Novita sari yahya.
Penulis dan peneliti.
Hobi : mengamati tingkah laku manusia Indonesia sambil scroll media sosial.