Heritage

Rumah Kapitan Soho Luwuk: Jejak Kolonial dan Sejarah yang Belum Tuntas

Salah satu situs bersejarah di Kabupaten Banggai. Kini menjadi museum daerah. (Foto: Dok. Museum Daerah Kab. Banggai)

Versi serupa tercantum dalam basis data budaya Indonesia. Namun, catatan tersebut merupakan entri basis data, bukan dokumen primer yang secara langsung membuktikan tahun pembangunan.

Sementara itu, pemberitaan Banggainews pada Januari 2024 mengutip Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banggai, Subrata Kalape, yang menyebut Rumah Kapitan didirikan pada 1935 oleh “Kontroleur Belanda ke-4, Kapten Paulisen” sebagai pesanggrahan.

Menurut keterangan tersebut, bangunan kemudian menjadi tempat tinggal Kapitan, beralih fungsi menjadi klinik kesehatan ABRI atau Kesdim, dan akhirnya digunakan sebagai museum.

Dengan demikian, perbedaannya bukan hanya menyangkut angka tahun. Versi 1926 mengaitkan gedung dengan kediaman seorang raja Banggai, sedangkan versi 1935 menyebutnya sebagai pesanggrahan yang dibangun pejabat kolonial.

Belum ditemukan dokumen pembangunan, arsip kepemilikan, atau surat-menyurat pemerintahan yang dapat memastikan salah satu versi maupun menjelaskan hubungan di antara keduanya.

Kemungkinan adanya perbedaan pencatatan, pembangunan bertahap, atau perubahan fungsi pada periode berbeda masih terbuka. Namun, tanpa bukti tambahan, kemungkinan tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah.

Rumah Raja, Pesanggrahan, atau Rumah Kapitan?

Bagikan: