Heritage

Keleke Tempo Dulu: Rumah Rumbia dan Jejak Leluhur Saluan


LUWUK, BANGGAIPOST.COM


Jauh sebelum Keleke tumbuh seperti sekarang, rumah-rumah beratap rumbia pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Sebuah foto hitam-putih lama memperlihatkan deretan rumah kayu di lereng bukit, berpagar sederhana, dengan warga yang tampak menjalani aktivitas sehari-hari. Foto yang diabadikan sekitar tahun 1880 dan kemudian dikumpulkan oleh Albert C. Kruyt (1901) itu membawa kita kembali ke masa ketika kehidupan masyarakat Saluan masih begitu dekat dengan alam.

Rumah dibangun menggunakan bahan yang tersedia di sekitar mereka: kayu dan atap rumbia atau jerami yang curam. Permukiman tumbuh mengikuti kontur tanah dan lingkungan pegunungan. Gambaran ini sangat sesuai dengan catatan etnografi Albert C. Kruyt dalam karyanya De To Loinang van den Oostarm van Celebes (1930).

Dalam tulisan tersebut, Kruyt menggambarkan masyarakat To Loinang (yang kini lebih dikenal sebagai suku Saluan) sebagai kelompok yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Lobu hingga hulu Sungai Bunta. Mereka terbagi dalam dua marga utama: Lingketeng, yang dianggap lebih tua dan penting, serta Baloa. Desa-desa mereka umumnya terletak di lereng bukit. Rumah-rumah kayu beratap rumbia dikelompokkan berdasarkan kekerabatan, dilengkapi pagar kayu sederhana di sekeliling pekarangan—persis seperti yang terlihat dalam foto Keleke.

Bagikan: