Pemuda dalam Perspektif Kearifan Lokal

Oleh: Suparman Lampale
(Mantan Ketua DPW PPI Provinsi Sulawesi Tenggara 2009-2013, Mantan Ketua DPW PGK Provinsi Sulawesi Tenggara 2013-2018)


Pemuda adalah agent of change (agen perubahan), social of control (kontrol sosial), mesin pendobrak, pioner penggerak, dan pemuda adalah pilar masa depan bangsa. Generasi muda hendaknya menyadari bahwa mereka adalah harapan bangsa yang sedang membangun untuk mengejar keterbelakangan, oleh karena itu kegiatan generasi muda hendaknya dapat menunjukan peran kepeloporan kaum muda dalam pembangunan dimanapun berada atau sesuai dengan daerah tempat tinggalnya.

Seiring dengan kemajuan zaman, maka tidak bisa dinafikan bahwa globalisasi dan modernisasi sangat mempengaruhi mindset dan paradigma berpikir kaum muda dalam bertindak. Revolusi teknologi informasi membuat semua orang dengan mudah mengakses informasi, dan hal ini sangat mempengaruhi perubahan perilaku generasi muda yang lahir antara tahun 1980-1999. Para ahli menyebut generasi yang lahir pada era revolusi wireless ini sebagai generasi milennial. Disebut generasi milenial karena mereka menjadi generasi yang pernah melewati milenium kedua. Generasi ini lahir ketika seluruh dunia terkoneksi dengan internet (wireless), dan generasi milenial tumbuh di tengah era globalisasi.

Globalisasi yang dimaksud yang erat gelontoran arus informasi. Arus informasi ini hadir untuk meluaskan paham internasionalisme, dan menghapuskan batas-batas nation-state. Hal tersebut melintasi batas batas kebudayaan, perilaku, dan nilai nilai kearifan lokal. Maka wajar jika produk-produk kearifan lokal kita bisa dibajak orang lain. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat karena dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara Kemajuan teknologi informatika dan komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai pelestari dan pengembang nilai nilai budaya lokal. John Naisbitt dalam buku Global Paradox menyebutkan globalisasi melahirkan paradoksal, yaitu makin manusia menjadi universal tindakannya justru makin primordial dan cara berpikirnya menjadi lokal meskipun bertindak global. Artinya, globalisasi melahirkan paradoksal berupa penguatan identitas lokal. Identitas lokal yang dimaksud adalah nilai nilai kearifan lokal.

Kearifan Lokal, dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijaksanaan setempat (local wisdom) atau pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (lokal genius). Ketiganya merujuk pada bentuk pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan berbagai strategi pandangan hidup, yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat  dalam menjawab berbagai masalah pemenuhan kebutuhan mereka. Konsepsi yang disebutkan terakhir adalah bahasan paling sering dijumpai dan dikupas saat ini. Local genius ini dikenalkan oleh Quaritch Wales, menyusul para antropolog lain yang mengurainya lebih panjang lagi. Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19).

Di Indonesia, Kerajaan-Kerajaan Nusantara kini kembali eksis secara adat dan budaya. Bahkan setiap tahun mengadakan festival keraton se-Nusantara. Masyarakat adat khususnya yang bergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mulai menuntut pengakuan dari Negara tentang keberadaan mereka.

Lantas pertanyaannya, bagaimana dengan sikap kita Banggai Laut yang notabene adalah wilayah eks Kerajaan Banggai? Latar belakang sejarah, budaya, serta nilai nilai kearifan lokal kini mulai tergerus, hanya ada dalam percakapan imajiner tetapi hilang dalam sistem berdaerah kita. Padahal, sebagai bangsa yang pernah memiliki sejarah peradaban di masa lalu, Banggai memiliki warisan nilai moral kearifan lokal yang tinggi, dimana falsafah TuuTu (integritas) dan Montolutusan (solidaritas) menjadi entitas moral dari karakter mian Banggai. Mestinya ini kemudian harus dirawat dan dijiwai oleh semua kita yang merasa mian Banggai.

Baru baru ini di Banggai Laut kita telah usai melakukan perhelatan pemilihan kepala daerah dan empat paslon ikut berkompetisi. Perhelatan tersebut sesuai rapat pleno terbuka KPUD Banggai Laut,  pasangan nomor urut 4 yaitu Sofyan Kaepa, SH-Ablit, SH ditetapkan sebagai pemenang. Patut kita syukuri karena pasangan SOLIT memiliki tagline wujudkan kearifan lokal yang berbudaya. Hal ini tampak jelas dibuktikan oleh bupati terpilih bapak Sofyan Kaepa, SH dalam beberapa momentum.

Salah satunya pada 12 Febuari kepada Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Banggai Laut. Walaupun beliau belum dilantik, tetapi setidaknya telah menggambarkan kepedulian beliau terhadap nilai nilai budaya dan kearifan lokal. Artinya beliau menjunjung tinggi pluralisme kepentingan dalam bingkai kebersamaan dan persaudaraan sejati (montolutusan) Banggai.

Hal ini semoga dapat mengubah mindset (paradigma) dan mental (karakter) orang (bangkapi/mian) Banggai demi mengembalikan marwah Banggai sebagai bangsa dan negeri yang beradab, sehingga semua pembangunan di semua lini hidup dalam kehidupan mempunyai dasar kuat yang mengarah pada semangat otonomi daerah atau sesuai dengan keberadaan daerah ini.

Di Banggai Laut, kesadaran akan berartinya kearifan lokal cenderung lambat. Selama ini, kearifan lokal tiarap bersama kepentingan pembangunan yang  bersifat sentralistik dan top down. Dalam memasuki fase pemerintahan baru nanti oleh bupati dan wakil bupati terpilih, tentu kita semua berharap agar apa yang menjadi visi dan misi beliau berdua dalam mewujudkan kearifan lokal yang berbudaya dapat terlaksama.

Namun semua itu tentu butuh kerja sama yang baik dari semua pemangku kepentingan yang ada di Banggai Laut, sebagai wujud cinta kita semua  terhadap daerah ini. Mengembangkan budaya menuju penguatan jati diri Lipu Banggai, membutuhkan keterkaitan lintas sektoral, spasial, struktural multi dimensi dan interdisipliner. Dalam hal ini harus bertumpu pada pemuda untuk kekuatan dasar sebagai pengeraknya.

Kawula muda yang dimaksud di sini adalah pemuda yang cinta daerah ini dengan nilai kearifan lokalnya. Kearifan lokal sesungguhnya merupakan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia (Lipu dan Mian Banggai). Lipu (secara geografis) dan Mian Banggai (sosial kultural) adalah dua variabel yang menjadi aset kekayaan daerah ini. Jika kedua variabel ini dipahami dan diaktualisasikan dalam sebuah perilaku sehari-hari dengan baik oleh pemuda Banggai Laut, maka kelak daerah ini menjadi daerah berkembang dan maju setara dengan daerah-daerah lain di seantero Nusantara. Pemuda harus mempersiapkan diri, membekali diri  dan dibekali agar mereka mampu menyematkan nilai kearifan lokal. Ke depan, bekal itu tentu harus diwariskan, diajarkan pula pada anak anak mereka, generasi selanjutnya, sebagai wujud penghapusan dosa generasi tua. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *