Perdebatan tentang usia makam, asal-usul Adi Saka, dan jejak awal Islam di Banggai mempertemukan tradisi lisan dengan kehati-hatian akademis
LUWUK, BANGGAIPOST.COM
Jauh di perbukitan Desa Lolantang, Kecamatan Bulagi Selatan, Pulau Peleng, Kabupaten Banggai Kepulauan, terdapat kompleks pemakaman kuno yang menyimpan narasi panjang tentang sejarah dan penyebaran Islam di Nusantara. Di tempat ini, ingatan kolektif masyarakat berkelindan dengan temuan arkeologis, menghadirkan teka-teki sejarah yang hingga kini masih menyisakan perdebatan.
Situs tersebut kembali mendapat perhatian setelah Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) melakukan penelitian bertajuk Islam Kosmopolitan. Namun, alih-alih menghadirkan satu kesimpulan sejarah yang mutlak, temuan dan keterangan yang berkembang justru membuka ruang bagi beragam perspektif serta kajian lebih lanjut.
Di balik kompleks makam Lolantang, tersimpan pertanyaan mendasar: seberapa jauh bukti yang tersedia dapat menjelaskan usia Islam di Banggai, dan bagaimana kisah Adi Saka ditempatkan dalam rekonstruksi sejarah tersebut?
Berdasarkan laporan observasi lapangan yang dilakukan oleh akademisi Haliadi, Butudoka, dan Djorimi, kompleks pemakaman Lolantang memiliki dua entitas makam yang perlu dibedakan, yakni Makam Imam Syaโban dan Makam Lipuadino atau Imam Fuadin.
