Ada pula dugaan dari sebagian kalangan akademisi bahwa angka tersebut mungkin kehilangan digit awal sehingga seharusnya dibaca sebagai 1268 H, yang bertepatan dengan kisaran 1851–1852 Masehi. Namun, dugaan itu tetap memerlukan pemeriksaan langsung terhadap bentuk angka, kondisi nisan, serta konteks arkeologisnya.
Perbedaan penafsiran tersebut menunjukkan bahwa pembacaan inskripsi kuno tidak cukup hanya mengandalkan angka yang terlihat. Pemeriksaan epigrafis, dokumentasi yang terukur, dan kajian konteks sejarah diperlukan untuk memastikan penanggalan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, usia kedua makam itu masih menjadi persoalan penelitian. Nilai penting situs Lolantang tidak semata-mata terletak pada kemungkinan usianya, tetapi juga pada kekayaan tradisi sejarah yang diwariskan masyarakat setempat.
Adi Saka: Dari Banggai Menuju Jawa
Di antara berbagai kisah yang menyelimuti kompleks pemakaman Lolantang, asal-usul tokoh legendaris Adi Saka menjadi salah satu narasi yang paling menarik untuk ditelusuri.
Berbeda dengan kisah populer dalam tradisi Jawa yang menempatkan Aji Saka sebagai tokoh pembawa peradaban ke Jawa, dokumen sejarah tutur yang dicatat oleh Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Mian Tuu Lipu Adino menghadirkan perspektif berbeda. Dalam narasi tersebut, Adi Saka justru berasal dari Banggai dan melakukan perjalanan ke Pulau Jawa.
