Dalam rapat tersebut, Amran juga mengkritik pola penindakan hukum yang menurutnya belum menyentuh pihak yang paling bertanggung jawab dalam suatu perusahaan. Ia menilai penanganan yang hanya menyasar direksi berisiko tidak menyelesaikan persoalan apabila pemilik atau pengendali usaha yang diduga terlibat tidak ikut ditelusuri.
Amran bahkan menyatakan kesediaannya mempertaruhkan jabatan apabila para pelaku benar-benar ditangkap.
Di hadapan Tito, ia turut menyinggung rekam jejak mantan Kapolri tersebut dalam penanganan kasus terorisme. “Noordin M Top saja Bapak tangkap, masa yang di depan mata ini tidak bisa ditangkap?” kata Amran.
Amran mengaku telah menyurati Kapolri agar dugaan praktik mafia ayam, telur, dan komoditas pangan lainnya segera ditindaklanjuti. Ia mendorong koordinasi lintas lembaga, mulai dari Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Polri, hingga Kejaksaan, untuk mengurai persoalan yang dinilainya menghambat stabilitas harga pangan.
Ia juga menyebut target penanganan dalam waktu enam bulan. Target tersebut menjadi tantangan bagi lembaga terkait untuk menindaklanjuti laporan, menelusuri rantai distribusi, dan membuktikan ada atau tidaknya pelanggaran hukum.
