Salah satu sumber penting untuk menelusuri sejarah bangunan tersebut adalah tulisan etnografer Belanda Alb. C. Kruyt. Dalam kajiannya pada 1931, Kruyt menyebut keberadaan koesali di Tinangkoeng yang berkaitan dengan balakat Bongganan. Ia mencatat bahwa setelah panen, masyarakat mengadakan perayaan di tempat itu selama satu hari satu malam.
Kruyt juga menyinggung istilah oetamalangong yang digunakan Kaudern. Namun, menurut catatannya, istilah tersebut tidak dikenal oleh sejumlah narasumber yang ia tanyai. Ia kemudian mengemukakan kemungkinan hubungan nama itu dengan istilah Boetasamalangan, tetapi sebatas dugaan yang belum dapat dipastikan.
Perbedaan keterangan tersebut menjadi hal penting dalam membaca sejarah Utamalangong. Di satu sisi, foto Kaudern memberikan bukti visual tentang keberadaan bangunan yang diberi nama octamalangong. Di sisi lain, catatan Kruyt menunjukkan bahwa nama dan fungsi bangunan tidak sepenuhnya terkonfirmasi melalui keterangan masyarakat yang diwawancarainya.
Karena itu, belum cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa bangunan dalam foto Kaudern pasti merupakan koesali yang disebut Kruyt. Keduanya memiliki keterkaitan dalam konteks lokasi dan tradisi ritual, tetapi hubungan langsung antara bangunan, nama, dan fungsinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
