Heritage

Menelusuri Jejak Utamalangong di Peling Tengah, Bangunan Ritual dalam Arsip Sejarah

Dalam tulisan De pilogot der Banggaiers en hun priesters (1932), Kruyt membahas kepercayaan terhadap pilogot dalam kehidupan masyarakat Banggai. Ia menggambarkan pilogot sebagai sosok spiritual yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kaitannya dengan keluarga, leluhur, dan tata nilai adat.

Namun, istilah-istilah dalam sistem kepercayaan tradisional Banggai tidak dapat disederhanakan begitu saja. Kruyt membedakan sejumlah konsep spiritual yang menurut catatannya memiliki fungsi dan konteks berbeda. Karena itu, menyebut pilogot semata-mata sebagai roh leluhur atau menganggap semua bangunan ritual sebagai tempat pemujaannya berisiko menghilangkan perbedaan makna dalam tradisi setempat.

Istilah koesali juga perlu dibaca berdasarkan konteks penggunaannya. Dalam pembahasan Kruyt mengenai pilogot keluarga, istilah tersebut muncul dalam kaitannya dengan tempat atau penyangga kecil untuk meletakkan persembahan di dalam rumah. Sementara itu, dalam catatannya mengenai Tinangkoeng, koesali dikaitkan dengan balakat Bongganan dan perayaan setelah panen.

Perbedaan konteks tersebut memperlihatkan bahwa istilah yang sama atau serupa dapat memiliki penggunaan yang tidak selalu identik. Oleh sebab itu, fungsi Utamalangong tidak tepat ditetapkan hanya berdasarkan kemiripan bentuk bangunan atau penyamaan istilah dalam catatan lama.

Bagikan: