Saya membayangkan ada seorang bupati di Banggai yang sesekali berdiri di depan anak-anak sekolah, bukan untuk berpidato tentang target pembangunan, melainkan membacakan puisi. Seorang bupati yang, pada suatu kesempatan, duduk bersama para remaja dan membacakan cerpen. Seorang pemimpin daerah yang memperkenalkan karya-karya besar kepada generasi muda, mulai dari Ibunda karya Maxim Gorky hingga Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.
Bukan karena semua anak harus menjadi penyair atau novelis, melainkan karena sastra mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan oleh angka-angka statistik: empati.
Sastra membuat seseorang mampu merasakan penderitaan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Ia melatih kepekaan terhadap ketidakadilan. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar tenaga kerja, konsumen, atau objek pembangunan, melainkan makhluk yang memiliki perasaan, harapan, dan martabat.
Saya juga membayangkan sekolah-sekolah di Banggai yang tidak hanya sibuk mengejar prestasi di bidang sains dan matematika, tetapi juga giat mengembangkan sastra. Ada lomba puisi, lomba cerpen, lomba esai, dan diskusi buku yang hidup. Karya-karya terbaik para siswa dikumpulkan dalam sebuah antologi, dicetak menjadi buku, lalu diperkenalkan kepada masyarakat melalui perpustakaan daerah. Dengan begitu, perpustakaan megah yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tidak menjadi sia-sia.
