Berita Utama

Membayangkan Bupati yang Mencintai Sastra

Saya juga membayangkan sekolah-sekolah di Banggai yang tidak hanya sibuk mengejar prestasi di bidang sains dan matematika, tetapi juga giat mengembangkan sastra. Ada lomba puisi, lomba cerpen, lomba esai, dan diskusi buku yang hidup. Karya-karya terbaik para siswa dikumpulkan dalam sebuah antologi, dicetak menjadi buku, lalu diperkenalkan kepada masyarakat melalui perpustakaan daerah. Dengan begitu, perpustakaan megah yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tidak menjadi sia-sia.

Betapa membanggakannya jika suatu hari seorang anak dari pelosok Banggai menemukan puisinya sendiri tersimpan di rak perpustakaan daerah. Mungkin bagi pemerintah itu hanya sebuah buku tipis. Namun, bagi anak tersebut, itu adalah pengakuan bahwa suaranya layak didengar.

Pembangunan sering dipahami sebagai pembangunan fisik. Kita mengukur keberhasilannya dengan kilometer jalan, jumlah gedung, atau besaran investasi. Semua itu memang penting. Namun, pembangunan yang hanya berfokus pada beton dan aspal akan menghasilkan masyarakat yang maju secara material, tetapi miskin imajinasi.

Padahal bangsa ini lahir bukan hanya dari para pejuang bersenjata. Bangsa ini juga dibentuk oleh para penulis, penyair, dan pemikir yang menanamkan kesadaran melalui kata-kata.

Karena itu, saya masih menyimpan harapan sederhana.

Bagikan: