Opini  

Membangun Spirit Banggai, Sebuah Strategi Pengembangan

Oleh: Nasri Sei
Oleh: Nasri Sei
Oleh: Nasri Sei
Oleh: Nasri Sei

Dalam makna generik, membangun adalah refleksi dari keinginan insani untuk mencapai aspirasinya yang paling humanistik. Aspirasi tersebut pada dasarnya berupa peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Secara hakiki, upaya pembangunan yang sedang ditempuh saat ini dapat dilakukan dengan mendayagunakan berbagai sumberdaya potensial yang tersedia disetiap wilayah maupun yang dapat diusahakan dari luar wilayah yang bersangkutan.

Sumber daya potensial itu berupa Sumber Daya Alam (Natural Resoure), Sumber Daya Manusia (Human Resource) dan Sumber Daya Buatan (Man-Made Resource).
Secara etimologis, membangun Spirit (jiwa) adalah bagian yang paling penting dari serangkaian kegiatan pembangunan. Jiwa (Spirit) akan sangat mewarnai watak dan karakter yang dibarengi moralitas dan budi pekerti yang baik.

Dalam beragam referensi jiwa atau spirit diterjemahkan sebagai Sikap mental yang ditandai dengan integritas dan ketegasan. Kehendak membangun Kabupaten Banggai adalah cita-cita bersama, untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dan berbudaya.

Implementasi program pembangunan tentunya memerlukan jiwa (spirit) dan nilai-nilai yang relevan. Jiwa yang dibutuhkan adalah sikap mental yang ideal dibangun atas dasar pengalaman , tujuan dan cita-cita masyarakat Banggai.

Jiwa akan mengejawantahkan kedalam kegiatan. Kinerja, dan inisiatif akan bermakna, bila diintegrasikan dengan semangat kebersamaan yang dalam bahasa daerah lebih populer disebut Budaya “Mosa’angu”. Hal yang paling penting dan arif untuk kita lakukan adalah belajar dari masa lalu, untuk kemudian mendesain strategi, dalam hal merancang masa depan “ Experience is the best teacher”.

a. Konsep pengembangan
Dalam konsep pengembangan, penulis enggan meretas pandangan secara teoritis tentang migas yang sangat diandalkan itu. Yang paling urgent dalam konsep kekinian adalah, upaya menggali dan memanfaatkan ruang Sumber Daya non Migas ditengah arus industrialisasi (Membaca Peluang). Disana masih banyak potensi yang selama ini belum terjamah bahkan nyaris ditinggalkan.

Sektor Pertanian, Perkebunan,peternakan, Pariwisata, Perikanan dan kelautan cukup besar. Melihat potensi Sumber Daya Alam yang demikian itu, maka tidak logis jika masih banyak masyarakat Banggai hidup dalam garis Kemiskinan.
Untuk itu pendekatan yang perlu dilakukan adalah merujuk pada aspek yang mengedepankan potensi dan kompetensi lokal.

Arah kebijakan diambil dengan mempertimbangkan Kultur Masyarakat dan spesifikasi permasalahan secara lokal, atau kerap disebut “ Development and empowering Strategy” (Strategi Pengembangan dan Pemberdayaan).
Pemutusan mata rantai kemiskinan di Kabupaten Banggai dapat dijabarkan melalui tiga unsur.

Pertama, pendayagunaan dan optimalisasi pemanfaatan Sumber Daya Alam (Khususnya lahan) dan SDM Lokal, diikuti dengan penyebaran fasilitas dan pelayanan sosial secara adil dan merata. Kedua, pembukaan dan diversifikasi lapangan kerja baru, untuk mengurangi ketimpangan pendapatan masyarakat. Ketiga, peningkatan kualitas manusia melalui pendidikan dan keterampilan praktis yang berbasis potensi dan kompetensi, baik formal maupun informal.

b. Strategi Pengembangan
Sebagai daerah industri, Pemerintah kita pasti sadar akan potensi dan tantangan yang dihadapinya. Tantangan dalam hal meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat, memperluas jangkauan dan mutu pelayanan hingga wilayah pesisir, mengembangkan Sumber Daya Lokal, meningkatkan sarana dan prasarana, mengefektifkan pengelolaan SDA, mengembangkan pola pemukiman serta mengembangkan kawasan industri padat Karya.

Untuk itu salah satu upaya percepatan yang perlu ditempuh adalah gerakan merubah pola pikir masyarakat tentang konsep finansial (Financial Concepts), konsep diri (Self Concepts), membangun kepercayaan diri (Self Confidence), dan membangun motivasi diri (Self Motovation), sehingga melahirkan SDM yang kreatif dan memiliki kompetensi yang berdaya saing. Adapun makna membangun gerakan dimaksud bertujuan;

Pertama, Gerakan Banggai membangun sebagai model pembangunan ekonomi yang digerakkan oleh masyarakat (People Driven). SDM dan modal sosial (Kelembagaan,budaya, norma, kearifan lokal) dipandang sebagai modal pembangunan. Inilah model pendekatan baru pembangunan ekonomi, untuk mengganti model pembangunan ekonomi yang selama ini cenderung menempatkan modal alam, kapital, teknologi dan managemen sebagai penggerak ekonomi, sedangkan modal sosial dan SDM hanya diperlakukan sebagai faktor produksi, bahkan seringkali diabaikan.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan ekonomi akan lebih akomodatif terhadap keragaman kualitas SDM. Kegiatan ekonomi dilakukan langsung oleh masyarakat, seperti usaha keluarga, usaha kelompok, Usaha Kecil menengah (UKM) dan Lembaga Keuangan Mikro dalam konteks perusahaan masyarakat (Community Corporate).

Kedua, Gerakan Banggai membangun dapat dimaknai pembagunan yang harmoni. Potensi kekuatan dan peran antara masyarakat, Pemerintah Daerah dan dunia usaha adalah orkesra pembangunan yang saling menguntungkan (Win-win Condition) dan bukan saling menyingkirkan (Win-Loss) dalam mengejar kemajuan ekonomi. Jika hal ini diterapkan maka akan terwujud perekonomian yang saling tergantung, bukan ekonomi yang berjalan sendiri-sendiri (Independency Economy)

C. Strategi Implementasi
Pertama, pembangunan sektor agribisnis yang digerakkan oleh SDM dan modal sosial. Pada tahap ini, program-program penting antara lain optimalisasi pemanfaatan lahan tidur, perluasan areal pertanian dan perkebunan, program peningkatan populasi ternak, program penyuluhan cara bertani/beternak/penangkapan ikan, penyediaan sarana produksi (Bibit, benih dan pupuk)program penguatan kelembagaan dan organisasi pasar reguler dan penyediaan kredit usaha Tani.

Tahap kedua, pembangunan yang digerakkan oleh barang-barang modal, SDM yang terampil dan budaya bisnis Kewirausahaan. Program-program pada tahap ini antara lain, program peningkatan kemampuan manejerial SDM, program pengembangan budaya bisnis kewirausahaan, program pengembangan industri pengolahan , program pengembangan organisasi dan jaringan usaha, program perluasan jaringan telepon, listrik dan air bersih, program pengembangan lembaga pembiayaan agribisnis .

Tahap ketiga, pembangunan digerakkan oleh inovasi tekhnologi, SDM terampil dan jaringan bisnis . Melalui peningkatan nilai tambah yang tinggi yakni program pengembangan tekhnologi pemasaran dan program pengembangan produk financial. Jika proses ini dilakukan secara kolektif dan penuh komitmen, maka kemajuan multi sektor akan terwujud, guna meningkatkan kesejateraan masyarakat.

Memahami itu semua, perlu dikembangkan ‘radikalisasi’ kader sebagai usaha eksperimentatif untuk mendorong spirit kreatifitas, yang juga sebagai “transformer” nilai-nilai dan gagasan yang “humanis”. Kita tidak boleh kehilangan spirit, menjadi “penonton dan pendukung” sering menjadi “ yang ditentukan bukan menentukan” dan kitapun tenggelam dalam “kemapanan-kesiapan” semu. ###

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *