Perbedaan data itu membuat petani khawatir kondisi yang mereka alami tidak sepenuhnya diketahui pemerintah.
“Yang kami tahu ada sekitar 30 hektare sawah yang gagal panen. Kalau petugas bilang tidak sampai lima hektare, itu keliru. Sawah saya sendiri yang gagal panen sudah lima hektare. Karena itu kami minta petugas POPT segera turun mengecek langsung sekaligus mencarikan solusi agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegas Bambang.
Belum selesai menghadapi gagal panen, petani juga harus bergulat dengan tingginya biaya produksi. Harga solar dan pupuk terus meningkat, sementara subsidi yang mereka harapkan belum pernah mereka rasakan.
“Solar di kios mahal, membeli satu jerigen lima liter saja susah. Ditambah gagal panen, kami makin kesulitan mendapatkan modal untuk membeli benih,” keluh salah seorang petani.
Kini, harapan mereka sederhana. Mereka meminta Dinas Pertanian Kabupaten Banggai dan UPT Pertanian Luwuk Timur turun langsung melihat kondisi di lapangan, memperbarui data lahan yang gagal panen, memperkuat pengendalian hama, mempermudah akses subsidi pupuk, benih, dan solar, serta menyalurkan bantuan darurat agar petani dapat kembali menanam.
