“Sudah dua kali musim kami gagal panen, namun yang paling parah musim ini. Dampak paling besar terjadi di Dusun 2 Desa Baya dan Dusun 3 Desa Uwedikan. Kalau ini terus berlangsung, kami khawatir ekonomi petani makin terpuruk dan kesulitan membeli benih untuk musim tanam berikutnya,” ujarnya.
Di tengah kesulitan tersebut, para petani merasa belum mendapatkan pendampingan yang memadai terkait pengendalian hama. Menurut mereka, penyuluhan yang diberikan selama ini lebih banyak membahas pola tanam dibanding upaya mencegah serangan tikus.
“Sejauh ini sosialisasi khusus tentang pengendalian hama dari petugas yang membidangi hama hampir tidak pernah ada. Kalau sosialisasi musim tanam dari penyuluh pertanian (PPL) memang sering dilakukan,” ungkapnya.
Karena itu, mereka berharap pemerintah tidak hanya hadir setelah kerusakan terjadi, tetapi juga melakukan langkah-langkah pencegahan sejak awal.
“Kalau sejak awal ada sosialisasi dan langkah pencegahan, mungkin serangan tikus bisa diminimalkan. Kami juga berharap pengurusan subsidi dipermudah agar pengolahan sawah bisa dilakukan secara serentak,” tambah Bambang.
Persoalan lain yang memicu kekecewaan petani adalah perbedaan data mengenai luas sawah yang terdampak. Para petani memperkirakan sekitar 30 hektare sawah mengalami gagal panen, sementara petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sebelumnya menyebut luas kerusakan tidak sampai lima hektare.
