Namun, realitas politik di daerah seperti Kabupaten Banggai maupun banyak kabupaten lain kemungkinan lebih kompleks. Survei Populi Center (2025) menunjukkan bahwa 52,3 persen Generasi Z mengakui politik uang masih memengaruhi pilihan politik mereka. Artinya, pialang politik lokal kemungkinan tidak hanya mengandalkan strategi digital untuk membentuk persepsi, tetapi juga mengombinasikannya dengan praktik patronase dan politik uang untuk mengamankan suara.
Sejumlah penelitian terbaru bahkan menunjukkan munculnya fenomena platformed patronage, yakni praktik patronase politik yang beradaptasi dengan ekosistem digital. Patronase tidak hilang, tetapi bertransformasi melalui grup WhatsApp, distribusi konten, transfer dompet digital, hingga berbagai insentif berbasis aktivitas media sosial (Subhan, Abijaya, & Faturohman, 2026). Temuan ini memperlihatkan bahwa digitalisasi justru melengkapi praktik patronase konvensional, bukan menggantikannya. Dalam konteks tersebut, strategi digital dan patronase lokal kemungkinan akan berjalan beriringan sebagai dua instrumen untuk memengaruhi preferensi politik pemilih.
Karena itu, hipotesis mengenai dominasi algoritma perlu diuji lebih lanjut dalam konteks lokal yang masih dipengaruhi faktor ekonomi, hubungan kekerabatan, dan jaringan patronase politik.
