Berita Utama

STEM ala Indonesia: “Science, Technology, Engineering, Meme”

Soekarno adalah figur revolusioner yang penuh semangat. Dengan pidatonya, ia bisa membuat rakyat bergetar, bahkan lantang menyerukan “Ganyang Malaysia!” yang sampai sekarang masih jadi kutipan legendaris. Namun, di balik semangat membakar itu, ada paradoks: beberapa kawan seperjuangan justru dimasukkan ke penjara karena beda haluan. Tokoh seperti Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, hingga Buya Hamka merasakan hal tersebut. Kritik Bung Hatta tentang “persatean” Nasakom pun tenggelam di tengah retorika Bung Karno yang selalu dramatis dan memikat.

Mahasiswa Indonesia di Blok Timur

Namun, kalau tragedi 1965 tidak terjadi, mungkin jalan sejarah lain. Ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri bisa pulang dan membangun negeri. Bayangkan jika mereka membawa ilmu dari Rusia, Eropa Timur, atau Tiongkok—ilmu yang bahkan tak ada di Cambridge atau Oxford.

Korea Utara misalnya, walau miskin, unggul dalam nuklir dan teknologi kesehatan. Mahasiswa Indonesia di era itu ada yang belajar teknik perkeretaapian Soviet, rekayasa nuklir, hingga kedokteran tropis berbasis sistem komunal Tiongkok. Ilmu yang kala itu mustahil ditemukan di universitas Barat karena dianggap “tidak sesuai selera kapitalisme.” Tapi, semua itu berakhir tragis: mereka dibantai, dipenjara, atau tak bisa pulang. Sejarah Indonesia kehilangan generasi emas ilmu pengetahuan.

Bagikan: