Berita Utama

Perempuan Indah Secara Fiksi, Berbahaya Secara Fakta

Perempuan dalam sejarah Indonesia tidak pernah diberi ruang sebagai subjek. Mereka dijadikan lambang, hiasan, atau korban. Dihormati sebagai ibu bangsa di atas panggung, tapi dibungkam dengan pengendalian melalui Ibuisme Negara.
Ketakutan terhadap perempuan sering kali bersumber dari ketidakmampuan laki-laki mengendalikan nafsu dan egonya sendiri. Tubuh perempuan dijadikan simbol dosa agar patriarki bisa terus merasa suci.

Saya percaya, kesetiaan seorang laki-laki terhadap satu perempuan mencerminkan kesetiaannya terhadap rakyatnya. Bung Hatta, Sutan Syahrir, H. Agus Salim, Mohammad Natsir, dan Gus Dur membuktikan bahwa integritas pribadi berjalan seiring dengan moral publik. Menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus disertai penaklukan atas tubuh perempuan.

Persahabatan, Idealisme, dan Luka yang Sama

Suara Tan Malaka pernah menggetarkan hati bangsa ini:

> “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

Revolusioner itu gugur di tangan bangsanya sendiri. Seperti banyak idealis lainnya, ia tidak mati oleh musuh, tapi oleh ketakutan sesama anak negeri.
Persahabatan dan permusuhan ternyata hanya dipisahkan garis tipis—terutama ketika politik kekuasaan sedang merajalela.

Bagikan: