Berita Utama

Pelestarian Burung Maleo di Tanah Adat Batui Melalui Aksi Peluncuran Wilayah Konservasi Bungin Sambal

Bungin Sambal, Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui yang dijadikan sebagai Wilayah Konservasi pelestarian Burung Maleo.[Foto:Ist]

Dalam sambutannya, Lurah Tolando, Budiarto K. Abdurahman, S.Sos, menyampaikan bahwa pelestarian burung maleo bukan hanya soal ekologi, tapi juga soal identitas dan kehormatan masyarakat adat Batui.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu menjaga habitat burung maleo. Tanpa dukungan dari kita semua, kelangsungan hidup burung ini akan terancam,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Konau Institut dan semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari amanah para leluhur.

Ahmad Yasin Siyah, Ketua Panitia Pelaksana, dengan penuh keyakinan mengungkapkan bahwa peluncuran wilayah konservasi ini adalah langkah pertama dari tekad bersama masyarakat Batui untuk menjaga kelestarian burung maleo dan ekosistemnya di atas tanah adat yang telah lama diwariskan oleh leluhur.

“Ini bukan hanya soal melestarikan satwa, tetapi ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap warisan leluhur yang telah tertanam dalam jiwa kami. Kami percaya bahwa menjaga hidup burung maleo di tanah adat Batui adalah kewajiban kami, sebagai penerus tradisi dan penjaga adat istiadat yang telah mendarah daging dalam kehidupan kami,” ujar Ahmad Yasin dengan penuh semangat.

Bagikan: