Kegiatan berlangsung dari pukul 08.00 hingga selesai, dengan rangkaian acara mulai dari registrasi tamu, laporan ketua panitia, sambutan pejabat dan tokoh adat, hingga penanaman dan ramah tamah bersama warga.
Peresmian Wilayah Konservasi Maleo Sambal ini menjadi langkah awal yang penting bagi gerakan pelestarian ekologis berbasis adat di Sulawesi Tengah, sekaligus menandai kebangkitan kesadaran masyarakat Batui dalam menjaga ruang hidupnya secara kolektif dan bermartabat.(*)
