Bagi Nadjamuddin, kisah itu menunjukkan bahwa kepedulian Zainul Arifin tidak berhenti pada lingkaran elite atau orang-orang tertentu saja. Seorang pangdam yang memimpin ribuan personel ternyata masih menyempatkan diri menjaga komunikasi dengan tokoh masyarakat hingga kepala desa di kampung-kampung.
Nadjamuddin menilai, kepekaan sosial yang dimiliki Zainul Arifin kemungkinan terbentuk dari pengalaman panjangnya menangani urusan sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Pertahanan saat Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
“Beliau lama mengelola SDM di Kementerian Pertahanan pada masa Pak Prabowo menjadi Menhan. Mungkin dari situ kepekaan beliau terhadap sesama semakin terasah. Beliau memahami bagaimana memperlakukan orang dengan baik, mendengar, menghargai, dan merangkul tanpa melihat jabatan ataupun latar belakang,” kata Nadjamuddin.
Menurutnya, kemampuan memimpin bukan hanya ditentukan oleh ketegasan dalam mengambil keputusan atau kecakapan menjalankan organisasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Pemimpin yang baik bukan hanya dihormati karena pangkatnya, tetapi juga karena akhlak dan keteladanannya. Pak Zainul memiliki itu,” tambahnya.
