Penilaian itu, menurutnya, bukan sekadar kesan dari cerita orang lain. Ia mengaku merasakannya secara langsung ketika diundang oleh Mayjen Zainul Arifin untuk suatu keperluan bersama seorang rekannya, yang pernah menjadi anak buah Zainul.
Dalam pertemuan tersebut, ada pengalaman sederhana yang justru membekas kuat dalam ingatannya.
“Semalam kami diajak jalan-jalan keliling kota. Yang membuat saya terkesan, kami disopiri langsung oleh beliau,” ungkap Nadjamuddin.
Bagi sebagian orang, mungkin hal itu terlihat biasa. Namun bagi Nadjamuddin, tindakan tersebut mencerminkan karakter asli seorang pemimpin. Di balik jabatan strategis yang disandangnya, Zainul Arifin tetap hadir sebagai sosok yang membumi dan menghargai orang lain tanpa memandang status.
“Beliau tidak menciptakan sekat. Padahal beliau seorang Pangdam. Tetapi cara beliau memperlakukan orang tetap sama, penuh penghormatan dan kehangatan,” ujarnya.
Nadjamuddin juga mengungkapkan satu hal lain yang membuatnya semakin memahami kepekaan sosial sosok Pangdam tersebut.
“Sore kemarin saat diskusi, beliau bercerita tentang wafatnya Kepala Desa Balantak, almarhum Jufri Lasandre. Ternyata beliau masih sempat berkomunikasi dengan almarhum dua hari sebelum wafat. Itu menandakan adanya hubungan tanpa jarak dengan siapa pun,” kata Nadjamuddin.
