Iklan Banggai Post
Opini

Para Calon Pemilih yang Diam di Medsos, Tapi Idealis di Bilik Suara?

Oleh: Herdiyanto Yusuf, Pemerhati Politik


Semalam saya iseng mewawancarai anak saya secara random. Usianya baru 16 tahun, siswa kelas 2 SMA. Gen Z tulen. Belum punya hak pilih pada Pemilu 2024, tetapi dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi pemilih pemula dalam berbagai kontestasi politik.

Saya selalu memperhatikan aktivitas media sosialnya. TikTok dan Instagram ada, tetapi hampir tak pernah digunakan untuk membuat postingan. Sesekali hanya story. Selebihnya, mungkin scrolling.

Karena itu saya tergelitik bertanya: mengapa?

Dia mengonfirmasi bahwa memang begitu kebiasaannya. Tetapi ketika ditanya alasannya, dia sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas.

Pertanyaan saya sebetulnya hanya ingin memvalidasi kembali fenomena zero posting, istilah yang dipopulerkan Tyle Chayka dalam The New Yorker. Dalam artikelnya, Infinite Scroll, ia menggambarkan kecenderungan orang biasa—bukan influencer atau kreator profesional—yang semakin jarang, bahkan hampir tidak pernah, memposting kehidupan sehari-hari di media sosial.

Fenomena ini menarik karena terjadi justru pada generasi yang sejak kecil hidup bersama dunia digital.

Mereka adalah generasi asli digital, digital native.

Mereka mengenal dunia virtual jauh sebelum sepenuhnya memahami dunia nyata. Sebelum lancar membaca, sebagian dari mereka sudah terbiasa menyentuh layar, menonton video, memainkan gim dan menjelajah berbagai platform digital.

Bagikan: