Berita Utama

Fenomena Zero Posting dan Peluang bagi Para Pialang Politik

Saat ini, semakin banyak anak muda memilih diam di media sosial. Akun mereka tetap aktif, tetapi linimasa (feed) nyaris kosong. Mereka masih membuka TikTok, Instagram, YouTube, atau platform lain selama berjam-jam setiap hari, tetapi semakin jarang mengunggah foto, video, maupun opini pribadi. Survei Jakpat (2026) menunjukkan bahwa 63 persen Generasi Z menghabiskan waktu luangnya dengan melakukan scrolling media sosial.

Fenomena Zero Posting tidak sekadar mengubah pola interaksi sosial Generasi Z, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap komunikasi politik digital. Alih-alih menjadi produsen percakapan, mereka semakin berperan sebagai konsumen informasi. Ketika konten organik dari pengguna biasa semakin sedikit, ruang digital cenderung diisi oleh konten profesional yang didorong algoritma.

Perspektif ini relatif baru dalam kajian komunikasi politik Indonesia. Namun, perlu diakui bahwa ia masih merupakan hipotesis yang memerlukan pembuktian empiris lebih lanjut.

Peluang Baru bagi Para Pialang Politik

Dalam situasi ketika pengguna semakin pasif, ruang digital justru menjadi lahan yang menguntungkan bagi aktor politik, pialang politik, konsultan kampanye, dan tim komunikasi partai. Semakin sepi percakapan organik, semakin besar peluang algoritma mendorong konten yang diproduksi secara profesional.

Bagikan: