ADVERTISEMENT

Krisis Air Luwuk: Bukan Waduk, Lindungi Mata Air dan Benahi Sistem Air

BANGGAIPOST.COM,Luwuk- Supriadi Lawani menilai solusi krisis air bersih di Luwuk tidak harus dimulai dengan pembangunan waduk yang mahal dan berisiko tinggi. Menurutnya, langkah paling rasional justru menjaga sumber air yang sudah ada serta membenahi infrastruktur distribusi air.

“Luwuk sebenarnya memiliki banyak mata air. Ekspedisi yang pernah dilakukan oleh DSLNG berkolaborasi dengan National Geographic Indonesia dan Iguana Tompotika, menunjukkan potensi sumber air yang cukup besar. Masalahnya bukan semata kekurangan air, tetapi pengelolaan sumber dan sistem distribusi yang belum optimal,” kata Aktvis yang akrab dipanggil Budi ini , pada Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa perlindungan kawasan mata air harus menjadi prioritas. Menurutnya, mata air tidak bisa diperlakukan hanya sebagai titik air, tetapi harus dijaga bersama ekosistemnya, termasuk melindungi kawasan resapan di sekitarnya dari penebangan dan kerusakan lingkungan.

Selain itu, ia menyoroti kondisi infrastruktur PDAM yang sudah tua. Kapasitas bak penampung air dinilai tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan kota, sementara sebagian jaringan pipa utama telah berumur puluhan tahun dan dipaksa melayani jumlah pelanggan yang terus meningkat.

“Kalau bak penampung ditambah dan pipa-pipa tua diganti, distribusi air bisa jauh lebih stabil. Ini langkah yang lebih realistis dibanding langsung membangun waduk,” ujarnya.

Terkait rencana pembangunan waduk, Budi menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara sangat hati-hati. Topografi Luwuk yang berbukit membuat proyek waduk memiliki risiko teknis yang tinggi serta membutuhkan biaya besar.

“Dengan kondisi topografi seperti Luwuk, waduk bukan proyek sederhana. Dibutuhkan analisis geologi, hidrologi, dan stabilitas lereng yang sangat matang. Biayanya juga sangat mahal,” katanya.

Sebagai solusi jangka pendek, ia mengusulkan pembangunan sejumlah sumur bor di beberapa titik strategis.

Kajian dari Universitas Gadjah Mada dan Badan Riset dan Inovasi Daerah ( Brida) menunjukkan wilayah Banggai, termasuk Luwuk, memiliki potensi air tanah yang cukup besar.

“Sumur bor bisa menjadi solusi cepat untuk menambah suplai air bagi masyarakat, sambil pemerintah membenahi sistem air secara menyeluruh,” ujarnya.

Menurut Budi krisis air bersih di Luwuk seharusnya diselesaikan melalui pendekatan yang lebih komprehensif: melindungi mata air, memperkuat infrastruktur distribusi, serta memanfaatkan potensi air tanah yang tersedia.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, solusi yang diambil harus benar-benar realistis, aman secara teknis, dan berpihak pada kebutuhan warga,” katanya.(Sri)