Menurut laporan The Wall Street Journal dan CNBC, Trump menyebut AS siap melanjutkan serangan dengan “tingkat dan intensitas yang lebih tinggi” jika Iran terus dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Trump juga mengklaim militer AS mampu melumpuhkan infrastruktur strategis Iran dalam waktu singkat.
Konflik Memanas
Ketegangan AS-Iran kembali meningkat sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026. Meski sempat tercapai gencatan senjata rapuh, situasi di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih.
Dikutip dari Al Jazeera, gangguan di jalur pelayaran tersebut menyebabkan distribusi minyak dunia terganggu. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Akibatnya, harga energi dunia mengalami lonjakan dan aktivitas perdagangan internasional ikut terdampak.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Pentagon telah menyiapkan berbagai opsi eskalasi militer apabila jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Sikap China dan Iran
Pemerintah China menegaskan pentingnya de-eskalasi dan menyebut perang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun Beijing juga dinilai berhati-hati dalam menekan Iran karena negara tersebut merupakan salah satu mitra dagang penting China, khususnya di sektor energi.
