Opini

Sulianti Murad; Cinta Tak Bersyarat untuk Banggai

Sulianti Murad memilih tetap peduli. Ia menunjukkan bahwa cinta kepada daerah tidak bersyarat. Tidak tergantung pada jabatan. Tidak menunggu panggung politik. Ia hadir bukan karena harus, tapi karena ingin. Karena nuraninya terpanggil.

Langkahnya ini juga menantang asumsi umum dalam teori perilaku politik, bahwa aktor politik umumnya termotivasi oleh self-interest (kepentingan diri). Dalam konteks ini, Sulianti Murad justru merepresentasikan alternatif: politik yang digerakkan oleh public interest (kepentingan umum), dan bahkan lebih dalam — moral calling.

Di tengah masyarakat yang mulai skeptis terhadap elite politik, sikap seperti ini adalah harapan. Ini memberi pesan kuat bahwa politik tidak selalu buruk. Bahwa masih ada ruang untuk ketulusan, untuk pelayanan tanpa pamrih, dan untuk keberpihakan yang murni kepada rakyat kecil.

Banggai butuh lebih banyak tokoh seperti Sulianti Murad. Tokoh yang tidak menunggu undangan resmi atau masa kampanye untuk bekerja. Tokoh yang tetap berjalan bersama masyarakat, bahkan saat sorotan publik sudah meredup. Karena seperti kata Hannah Arendt, kekuasaan yang sejati bukan berasal dari jabatan, melainkan dari kemampuan untuk bertindak bersama rakyat.

Bagikan: