Membayangkan Bupati yang Mencintai Sastra


Oleh: Supriadi Lawani*


Sampai hari ini saya belum pernah mendengar ada seorang bupati yang benar-benar serius mengembangkan sastra di daerahnya. Mungkin ada yang sesekali membuka festival budaya, menghadiri peluncuran buku, atau memberikan sambutan dalam lomba menulis. Namun, seorang kepala daerah yang sungguh-sungguh menjadikan sastra sebagai bagian dari agenda pembangunan, rasanya masih sangat langka.

Termasuk di daerah saya, Kabupaten Banggai.

Entah mengapa sastra sering dianggap tidak penting. Mungkin karena sastra tidak menghasilkan uang sebanyak tambang. Tidak meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) secara langsung seperti investasi. Tidak menghadirkan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang mudah dipamerkan dalam laporan kinerja.

Padahal, jika menoleh ke belakang, sejarah manusia selalu berjalan beriringan dengan sastra.

Bangsa-bangsa besar tidak hanya membangun gedung, jalan raya, dan pelabuhan. Mereka juga membangun cerita, puisi, novel, dan tradisi literasi. Bahkan kitab-kitab suci yang membentuk peradaban dunia banyak ditulis dengan kekuatan bahasa yang begitu puitis. Manusia tidak hidup hanya dengan roti, tetapi juga dengan makna.

Karena itu, saya sering membayangkan sesuatu yang mungkin terdengar sederhana.

Saya membayangkan ada seorang bupati di Banggai yang sesekali berdiri di depan anak-anak sekolah, bukan untuk berpidato tentang target pembangunan, melainkan membacakan puisi. Seorang bupati yang, pada suatu kesempatan, duduk bersama para remaja dan membacakan cerpen. Seorang pemimpin daerah yang memperkenalkan karya-karya besar kepada generasi muda, mulai dari Ibunda karya Maxim Gorky hingga Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Bukan karena semua anak harus menjadi penyair atau novelis, melainkan karena sastra mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan oleh angka-angka statistik: empati.

Sastra membuat seseorang mampu merasakan penderitaan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Ia melatih kepekaan terhadap ketidakadilan. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar tenaga kerja, konsumen, atau objek pembangunan, melainkan makhluk yang memiliki perasaan, harapan, dan martabat.

Saya juga membayangkan sekolah-sekolah di Banggai yang tidak hanya sibuk mengejar prestasi di bidang sains dan matematika, tetapi juga giat mengembangkan sastra. Ada lomba puisi, lomba cerpen, lomba esai, dan diskusi buku yang hidup. Karya-karya terbaik para siswa dikumpulkan dalam sebuah antologi, dicetak menjadi buku, lalu diperkenalkan kepada masyarakat melalui perpustakaan daerah. Dengan begitu, perpustakaan megah yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tidak menjadi sia-sia.

Betapa membanggakannya jika suatu hari seorang anak dari pelosok Banggai menemukan puisinya sendiri tersimpan di rak perpustakaan daerah. Mungkin bagi pemerintah itu hanya sebuah buku tipis. Namun, bagi anak tersebut, itu adalah pengakuan bahwa suaranya layak didengar.

Pembangunan sering dipahami sebagai pembangunan fisik. Kita mengukur keberhasilannya dengan kilometer jalan, jumlah gedung, atau besaran investasi. Semua itu memang penting. Namun, pembangunan yang hanya berfokus pada beton dan aspal akan menghasilkan masyarakat yang maju secara material, tetapi miskin imajinasi.

Padahal bangsa ini lahir bukan hanya dari para pejuang bersenjata. Bangsa ini juga dibentuk oleh para penulis, penyair, dan pemikir yang menanamkan kesadaran melalui kata-kata.

Karena itu, saya masih menyimpan harapan sederhana.

Suatu hari nanti mungkin akan lahir seorang bupati di Banggai yang tidak hanya mencintai sastra, tetapi juga terlibat di dalamnya. Seorang pemimpin yang memahami bahwa membangun daerah tidak hanya berarti membangun infrastruktur, melainkan juga membangun jiwa manusia.

Sebab jalan yang baik dapat menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Namun, sastra yang baik mampu menghubungkan manusia dengan kemanusiaannya sendiri.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-66 Kabupaten Banggai. Meski sastra masih menjadi catatan kaki dalam pembangunan, setidaknya aksara dan kata-kata di tanah ini masih menolak mati.

Luwuk, 17 Juni 2026

*Penullis adalah petani pisang 

— IKLAN —
Iklan Untika Luwuk