Menariknya, pada Juni 2026 rupiah memang sempat bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Pada periode yang hampir bersamaan, muncul berbagai spekulasi mengenai dinamika hubungan politik antara Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Tentu saja ini bukan berarti semua yang disampaikan Faisal Basri adalah ramalan yang pasti terjadi. Politik dan ekonomi jauh lebih kompleks daripada sekadar satu prediksi. Namun, ada satu pelajaran yang terasa relevan: kondisi ekonomi sering kali memengaruhi stabilitas politik, dan sebaliknya, dinamika politik dapat memengaruhi kepercayaan terhadap ekonomi.
Mungkin di situlah letak menariknya membaca ulang pemikiran para ekonom. Mereka tidak hanya berbicara soal angka, kurs, atau APBN, tetapi juga mencoba membaca hubungan antara kekuasaan, kepentingan, dan kondisi masyarakat.
Jika menggunakan kacamata Faisal Basri, pelemahan ekonomi bukan hanya soal angka-angka makro, melainkan juga soal bagaimana elite merespons tekanan tersebut. Ketika ruang fiskal menyempit dan kontestasi politik semakin dekat, potensi pergeseran aliansi menjadi lebih besar.
