Oleh: Nadjamudin Mointang, Analis Kebijakan
Padahal, Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar. Gugusan pulau, laut yang jernih, serta destinasi unggulan seperti Danau Paisu Pok, Air Terjun Piala, dan Danau Ubur-Ubur Mbuang-Mbuang merupakan aset bernilai tinggi dalam industri pariwisata
Terhentinya sejumlah rute penerbangan menuju Luwuk dalam beberapa waktu terakhir tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai dampak mahalnya harga avtur. Jika itu satu-satunya penyebab, maka seluruh rute baru di kawasan timur Indonesia semestinya mengalami nasib serupa. Faktanya tidak demikian. Kasus Luwuk justru memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar: kegagalan membangun ekosistem permintaan (demand ecosystem) yang kuat dan berkelanjutan.
Selama ini, pendekatan pembangunan pariwisata di wilayah Banggai Raya masih bersifat parsial. Masing-masing daerah berjalan sendiri, fokus pada promosi destinasi tanpa diiringi upaya membangun sistem kunjungan yang terintegrasi. Akibatnya, ketika konektivitas udara terganggu, tidak ada penyangga yang cukup kuat untuk menjaga arus wisatawan tetap stabil.
Padahal, Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar. Gugusan pulau, laut yang jernih, serta destinasi unggulan seperti Danau Paisu Pok, Air Terjun Piala, dan Danau Ubur-Ubur Mbuang-Mbuang merupakan aset bernilai tinggi dalam industri pariwisata. Sayangnya, potensi ini masih tersebar dan belum terorkestrasi dalam satu kesatuan kawasan ekonomi yang saling menopang.
Kondisi ini membuat pasar tidak terbentuk secara kuat. Pariwisata Banggai Raya saat ini cenderung kuat di sisi supply—destinasi menarik dan mulai dikenal—namun lemah dalam demand engineering. Wisatawan tidak hanya mencari keindahan, tetapi juga kemudahan akses, kepastian transportasi, serta pengalaman perjalanan yang terintegrasi dari awal hingga akhir.
Di sinilah pentingnya perubahan paradigma. Tiga kabupaten di Banggai Raya perlu bergerak dari pola kompetitif menuju pola kooperatif. Kolaborasi tidak cukup berhenti pada promosi bersama, tetapi harus naik level menjadi orkestrasi ekonomi kawasan. Perencanaan dan penganggaran perlu disinergikan melalui skema kerja sama antar daerah, sehingga pembangunan infrastruktur, konektivitas, dan promosi berjalan dalam satu arah yang sama.
Langkah konkret yang bisa segera dilakukan adalah membangun paket wisata terpadu lintas wilayah. Wisatawan yang datang ke Luwuk tidak hanya berhenti di satu titik, tetapi diarahkan menjelajah hingga ke wilayah kepulauan dalam satu jalur perjalanan yang utuh. Dengan demikian, lama tinggal wisatawan meningkat, perputaran ekonomi meluas, dan dampaknya terhadap pendapatan daerah menjadi lebih signifikan.
Selain itu, penguatan konektivitas menjadi faktor kunci. Ketika transportasi udara belum stabil, transportasi laut harus dioptimalkan secara serius—dengan jadwal yang pasti, sistem yang terintegrasi, serta standar layanan yang dapat diandalkan. Konektivitas yang kuat akan membangun kepercayaan pasar dan menjadi sinyal positif bagi maskapai untuk kembali membuka rute penerbangan.
Lebih jauh, strategi penguatan pasar juga harus dilakukan secara agresif. Pemerintah daerah perlu mendorong event berskala nasional maupun internasional, menjalin kemitraan dengan pelaku industri perjalanan, serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan promosi. Dalam konteks ini, intervensi fiskal seperti seat guarantee juga patut dipertimbangkan sebagai upaya awal untuk menstimulasi permintaan.
Tanpa langkah-langkah strategis tersebut, setiap pembukaan rute baru hanya akan berakhir sebagai seremoni—dibuka dengan optimisme, lalu ditutup karena sepi penumpang. Ini bukan sekadar persoalan maskapai, tetapi cerminan dari belum terbentuknya ekosistem pasar yang solid.
Sebaliknya, jika tiga kabupaten di Banggai Raya mampu membangun kolaborasi yang kuat dan keluar dari pola lama, peluang besar terbuka. Luwuk tidak hanya akan menjadi titik singgah, tetapi dapat tumbuh sebagai gerbang utama pariwisata bahari di Sulawesi Tengah. Pariwisata pun tidak sekadar menjadi sektor pelengkap, melainkan motor penggerak ekonomi kawasan yang menghidupkan berbagai sektor lain—dari perhotelan, transportasi, hingga UMKM dan ekonomi kreatif.
Momentum ini harus dibaca sebagai titik balik. Tantangan konektivitas bukan akhir, melainkan peringatan bahwa pendekatan lama tidak lagi memadai. Saatnya Banggai Raya membangun masa depan bersama—dengan kolaborasi sebagai fondasi utama.(*)












