Keberadaan dokter spesialis jantung merupakan langkah maju, tetapi tanpa dokter kardiologi intervensi dan peralatan cath lab, kemampuan layanan tetap terbatas.
Hal serupa terlihat pada layanan urologi. Hingga kini, Banggai belum memiliki dokter urologi, sementara kasus batu ginjal, gangguan saluran kemih, dan pembesaran prostat cukup sering ditemui. Tanpa dokter urologi, tindakan dasar endoskopi atau ESWL belum dapat diberikan di dalam daerah.
Pada kasus penyakit ginjal, layanan hemodialisis tersedia, tetapi ketiadaan dokter nefrolog membuat penanganan komplikasi berat tetap mengandalkan rujukan ke luar daerah.
Rangkaian kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan paling mendasar RSUD Luwuk bukan terletak pada bangunan fisik, melainkan pada kapasitas layanan yang ditentukan oleh dokter dan alat.
Kontradiksi Pembangunan Fisik di Masa Fiskal Ketat
Dalam situasi pengetatan anggaran nasional, banyak daerah menunda proyek-proyek fisik berskala besar dan memprioritaskan belanja yang berdampak langsung pada pelayanan publik. Namun Kabupaten Banggai memilih tetap mengalokasikan perhatian pada pembangunan gedung rumah sakit.
