Berita Utama

Relasi Kuasa di Balik Kisah Cinta Publik Figur.

Dominasi simbolik โ€œbapakโ€ dan subordinasi โ€œibuโ€ masih tampak dalam narasi pernikahan modern, di mana kepemimpinan dan keputusan sering diidentikkan dengan maskulinitas (Flood, 2020).

Analisis Psikologis: Maskulinitas, Dominasi, dan Luka Relasi Kuasa.

Dari perspektif psikologi sosial, ketimpangan relasi berakar pada maskulinitas hegemonik. Keyakinan bahwa laki-laki harus kuat, rasional, dan dominan (Flood, 2020).

Menurut American Psychological Association (2018), pria dengan ciri toxic masculinity (kontrol emosi rendah, dorongan dominasi, resistensi terhadap kesetaraan) berisiko dua kali lipat mengalami konflik.

Penelitian Nilan & Utomo (2018) di Asia Tenggara menunjukkan bahwa sekitar 60% pasangan dengan relasi kuasa tidak seimbang mengalami kelelahan emosional dan gaslighting (interpretatif dari deskripsi kualitatif penelitian). Hasilnya menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kuasa sering memperburuk konflik interpersonal. Cinta, dalam konteks ini, bukan lagi ruang pertumbuhan bersama retapi arena kekuasaan yang memperkuat superioritas salah satu pihak.

Sejarah Relasi Kuasa atas Tubuh Perempuan

Ketimpangan relasi gender memiliki akar sejarah panjang (Suryakusuma, 2011). Pasca-1965, banyak perempuan yang dituduh terlibat dalam Gerwani menjadi korban kekerasan seksual dan sosial oleh oknum aparat negara (Komnas Perempuan, 2012).

Bagikan: