Namun yang menarik, Christopel juga menanggapi keras kritik dari pihak-pihak yang menurutnya keliru dalam memahami teknis pelaksanaan proyek.
โOrang yang sebar berita ini kalau nggak paham, harusnya jangan bicara di media. Biar nggak kelihatan cuma cari perhatian. Sejauh ini setahu saya tidak ada warga Uwedikan yang mempersoalkan proyek tersebut. Yang bicara itu Pak Adnan Basia bukan warga Uwedikan, dia warga Kayutanyo,โ tegasnya.
Pernyataan ini tampaknya merujuk pada kritik Ketua Forum Peduli Masyarakat Luwuk Timur (FPML), Adnan Basia, yang menyebut proyek SPAM Uwedikan tidak memberi dampak nyata bagi warga karena air belum mengalir ke rumah-rumah. Adnan bahkan menyebut jalur pipa hanya berhenti di depan perusahaan tambak, bukan ke pemukiman warga.
Kritik tersebut menyulut pertanyaan publik atas transparansi dan efektivitas penggunaan anggaran. Namun Dinas PUPR menegaskan bahwa proyek SPAM memang dirancang secara bertahap dan akan dituntaskan melalui anggaran lanjutan.
Masyarakat kini menunggu realisasi janji penyelesaian proyek lanjutan di tahun iniโbukan sekadar wacana birokrasi. (Alin)
