Ia menilai BUMD idealnya memperoleh keuntungan dari aktivitas bisnis inti yang berulang (recurring income), bukan bergantung pada faktor-faktor insidental yang belum tentu tersedia setiap tahun.
“Kalau tahun depan tidak ada hibah lagi, apakah perusahaan tetap bisa mencetak laba? Itu pertanyaan yang menurut saya harus dijawab oleh manajemen dan pemegang saham,” tambahnya.
Jangan Terjebak Euforia Dividen
Nadjamuddin juga mengingatkan agar publik tidak terjebak pada euforia pembagian dividen semata.
Menurutnya, dividen memang menunjukkan adanya keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham. Namun dalam konteks perusahaan daerah, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah kemampuan menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan bagi daerah.
“Dividen itu penting, tetapi lebih penting lagi apakah perusahaan memiliki model bisnis yang kuat, arus kas yang sehat, dan prospek pendapatan yang jelas di masa depan,” ujarnya.
Ia menilai harapan terbesar PT BEU masih berada pada Participating Interest (PI) 10 persen sektor migas yang selama ini diproyeksikan menjadi sumber pendapatan strategis daerah.
