“Jauh sebelum saya berangkat ke Paisubebe, saya sudah berkomunikasi melalui telepon dengan kepala desa dan menyampaikan maksud serta tujuan kedatangan saya. Jadi, jangan membangun narasi seolah-olah kehadiran saya sama sekali tidak diketahui,” ungkapnya.
Kevin menilai komunikasi melalui sambungan telepon juga merupakan bagian dari proses konfirmasi yang dapat diuji berdasarkan fakta dan keterangan para pihak.
Selain dugaan penghinaan, Kevin turut mengungkapkan adanya informasi mengenai dugaan intimidasi yang membuat dirinya memilih tidak berlama-lama berada di Desa Paisubebe.
Ia mengaku memperoleh informasi bahwa seorang anak kepala desa berinisial N diduga sedang mencarinya dengan membawa sepotong kayu.
Informasi tersebut, menurut Kevin, membuat dirinya merasa khawatir terhadap keselamatan pribadi sehingga memilih meninggalkan lokasi lebih awal.
“Saya sedikit ketakutan ketika mendapat informasi bahwa ada anak kepala desa berinisial N yang disebut sedang mencari saya dengan membawa sepotong kayu. Dalam kondisi seperti itu, tentu saya harus mempertimbangkan keselamatan diri,” jelasnya.
Meski demikian, Kevin menyatakan informasi tersebut perlu diklarifikasi dan dibuktikan secara objektif. Ia berharap pihak berwenang dapat menelusuri seluruh rangkaian peristiwa agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak.
