Dalam paparannya, harga ayam di tingkat peternak disebut berada pada kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kilogram. Sementara itu, harga di tingkat konsumen masih berkisar Rp40.000–Rp50.000 per kilogram.
Ketimpangan tersebut, menurut Amran, mengindikasikan adanya persoalan dalam rantai distribusi yang perlu diusut. Ia menduga terdapat pihak-pihak yang mengambil keuntungan berlebihan di tengah tekanan harga yang dialami peternak.
Persoalan harga tersebut juga menjadi sorotan setelah ribuan peternak dilaporkan menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR.
Bagi Amran, persoalannya bukan sekadar angka inflasi, melainkan bagaimana harga yang diterima produsen dapat jatuh ketika masyarakat tetap harus membeli komoditas pangan dengan harga tinggi.
Amran juga menyinggung persoalan distribusi dan harga pada komoditas lain, termasuk beras dan minyak goreng. Ia mempertanyakan kondisi ketika stok pangan nasional disebut surplus, tetapi harga di tingkat produsen masih menghadapi tekanan.
Ia turut menyoroti beras fortifikasi yang disebutnya dijual dengan harga tinggi, meskipun ditujukan bagi masyarakat miskin. Menurutnya, persoalan distribusi dan dugaan permainan harga harus ditelusuri agar tidak merugikan petani, peternak, maupun konsumen.
