(Testimoni Analis Kebijakan, Nadjamuddin Mointang)
Jabatan boleh tinggi, tetapi kerendahan hati adalah pilihan yang tidak dimiliki semua orang. Analis Kebijakan Nadjamuddin Mointang membagikan kesannya tentang sosok Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin. Di tengah karier yang terus menanjak dan disebut-sebut segera menyandang bintang tiga, ia menilai sosok jenderal ini tetap sederhana, mudah bergaul, dan tak pernah menjaga jarak.
“Makin berisi makin merunduk.” Pameo klasik yang diwariskan turun-temurun itu agaknya paling tepat menggambarkan sosok Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, S.A.P., M.Sc. Setidaknya begitulah kesan yang dirasakan Analis Kebijakan, Nadjamuddin Mointang saat berkunjung di sana, pekan ini.
Di tengah karier militer yang terus menanjak, kepercayaan besar yang diemban negara, bahkan disebut-sebut segera menyandang bintang tiga, Zainul Arifin tetap menjadi pribadi yang sama: rendah hati, sederhana, dan tidak menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya.
“Meski menjabat sebagai Pangdam dan segera menjadi bintang tiga, tabiat Pak Zainul tidak berubah. Beliau tetap humble dan selalu menjalin silaturahmi,” tutur Nadjamuddin kepada Banggai Post, Minggu (14/6/2026)
Penilaian itu, menurutnya, bukan sekadar kesan dari cerita orang lain. Ia mengaku merasakannya secara langsung ketika diundang oleh Mayjen Zainul Arifin untuk suatu keperluan bersama seorang rekannya, yang pernah menjadi anak buah Zainul.
Dalam pertemuan tersebut, ada pengalaman sederhana yang justru membekas kuat dalam ingatannya.
“Semalam kami diajak jalan-jalan keliling kota. Yang membuat saya terkesan, kami disopiri langsung oleh beliau,” ungkap Nadjamuddin.
Bagi sebagian orang, mungkin hal itu terlihat biasa. Namun bagi Nadjamuddin, tindakan tersebut mencerminkan karakter asli seorang pemimpin. Di balik jabatan strategis yang disandangnya, Zainul Arifin tetap hadir sebagai sosok yang membumi dan menghargai orang lain tanpa memandang status.
“Beliau tidak menciptakan sekat. Padahal beliau seorang Pangdam. Tetapi cara beliau memperlakukan orang tetap sama, penuh penghormatan dan kehangatan,” ujarnya.
Nadjamuddin juga mengungkapkan satu hal lain yang membuatnya semakin memahami kepekaan sosial sosok Pangdam tersebut.
“Sore kemarin saat diskusi, beliau bercerita tentang wafatnya Kepala Desa Balantak, almarhum Jufri Lasandre. Ternyata beliau masih sempat berkomunikasi dengan almarhum dua hari sebelum wafat. Itu menandakan adanya hubungan tanpa jarak dengan siapa pun,” kata Nadjamuddin.
Bagi Nadjamuddin, kisah itu menunjukkan bahwa kepedulian Zainul Arifin tidak berhenti pada lingkaran elite atau orang-orang tertentu saja. Seorang pangdam yang memimpin ribuan personel ternyata masih menyempatkan diri menjaga komunikasi dengan tokoh masyarakat hingga kepala desa di kampung-kampung.
Nadjamuddin menilai, kepekaan sosial yang dimiliki Zainul Arifin kemungkinan terbentuk dari pengalaman panjangnya menangani urusan sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Pertahanan saat Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
“Beliau lama mengelola SDM di Kementerian Pertahanan pada masa Pak Prabowo menjadi Menhan. Mungkin dari situ kepekaan beliau terhadap sesama semakin terasah. Beliau memahami bagaimana memperlakukan orang dengan baik, mendengar, menghargai, dan merangkul tanpa melihat jabatan ataupun latar belakang,” kata Nadjamuddin.
Menurutnya, kemampuan memimpin bukan hanya ditentukan oleh ketegasan dalam mengambil keputusan atau kecakapan menjalankan organisasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Pemimpin yang baik bukan hanya dihormati karena pangkatnya, tetapi juga karena akhlak dan keteladanannya. Pak Zainul memiliki itu,” tambahnya.
Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Banggai, nama Zainul Arifin sejatinya bukan sosok yang asing. Selain dikenal sebagai perwira tinggi TNI dengan rekam jejak yang cemerlang, ia juga merupakan menantu almarhum Murad Husain, pengusaha sukses asal Banggai yang dikenal luas melalui kiprahnya di dunia usaha.
Pada masa krisis ekonomi 1998, nama Murad Husain turut dikenal karena disebut memberikan kontribusi dalam bentuk bantuan devisa berupa mata uang dolar Amerika Serikat sebagai bagian dari dukungan terhadap upaya pemulihan ekonomi nasional. Kepedulian itu membuat sosoknya dikenang oleh banyak kalangan di Banggai hingga kini.
Namun, bagi Nadjamuddin, hubungan kekeluargaan dengan tokoh besar bukanlah alasan utama mengapa Zainul Arifin dihormati. Yang paling menonjol justru adalah kemampuannya menjaga kesederhanaan di tengah tingginya jabatan yang diemban.
Mayjen TNI Zainul Arifin saat ini menjabat sebagai Pangdam XXII/Tambun Bungai, komando daerah militer yang dibentuk untuk memperkuat pertahanan di wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan. Kodam tersebut menerima pengalihan ribuan personel sebagai bagian dari upaya meningkatkan efektivitas pengamanan dan pembinaan teritorial di kawasan tersebut.
Namun, bagi Nadjamuddin, jabatan hanyalah amanah yang suatu saat dapat berganti. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menjaga karakter ketika berada di puncak karier.
“Jabatan boleh bertambah tinggi, pangkat boleh semakin besar. Tetapi beliau tidak berubah. Tetap rendah hati, peka terhadap sesama, mudah bergaul, dan selalu menjalin silaturahmi. Itulah makna ilmu padi: makin berisi, makin merunduk,” pungkas Nadjamuddin.
Di tengah zaman ketika jabatan kerap diidentikkan dengan jarak dan formalitas, kisah sederhana tentang seorang pangdam yang memilih menyopiri sendiri tamunya menjadi pengingat bahwa kebesaran seseorang tidak selalu ditunjukkan oleh simbol-simbol kekuasaan. Kadang, justru tampak dari hal-hal kecil: cara menyapa, menghargai, mendengar, dan memperlakukan sesama manusia.
Barangkali benar, seperti filosofi padi yang tumbuh di sawah-sawah Nusantara: semakin berisi, semakin merunduk. Semakin tinggi ilmu, pengalaman, dan kedudukan seseorang, semakin besar pula kerendahan hati yang terpancar darinya.(Alin/RBP)












