Lari dari Pijat Refleksi?


Oleh: Anang S. Otoluwa


Malam itu saya tiba di Soekarno–Hatta terlalu dini. Masih ada sekitar 2 jam sebelum panggilan boarding untuk penerbangan Jakarta–Palu. Karena bingung menghabiskan waktu, saya tergoda mampir ke tempat pijat refleksi. Dulu, ini seperti menjadi kebiasaan sebelum melakukan penerbangan. Namun, sudah lama saya tidak melakukannya lagi.

Pijat refleksi, bagi saya, seperti menjadi bonus perjalanan. Kaki dipijat, pikiran dibuat tenang, dan tubuh terasa lebih ringan sebelum terkurung di kabin pesawat.

Namun kali ini ada yang berbeda. Dari menit pertama, sensasi pijatan itu terasa datar saja. Tidak terasa lagi sensasi nikmat atau rasa lega yang biasanya muncul saat titik-titik telapak kaki ditekan.

Usai dipijat, sambil berjalan menuju gate, saya mulai bertanya-tanya. Apa yang berubah? Terapisnya? Tekniknya? Atau diri saya?

Saya lebih percaya pada jawaban terakhir itu. Tak hanya di bandara, tetapi dimana saja, saya sudah jarang sekali mengunjungi tempat pijat. Dan ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan baru saya, berlari.

Sudah beberapa bulan terakhir, saya mulai konsisten berlari: 5 km per sesi, empat kali seminggu. Ritme yang teratur ini, mungkin membuat tubuh saya beradaptasi dengan cara yang tidak saya sadari.

Secara fisiologis, lari rutin memberikan beberapa perubahan penting:
Pertama, sirkulasi darah meningkat dan stabil.
Lari membuat jantung bekerja lebih efisien. Pembuluh darah kecil di kaki dan betis terbuka lebih banyak (vasodilatasi), sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Salah satu tujuan utama pijat refleksi adalah melancarkan sirkulasi. Dengan lari, tubuh secara alamiah sudah melakukannya secara mandiri.

Kedua, otot kaki lebih elastis dan tidak mudah tegang. Gerakan repetitif saat berlari membuat otot betis, telapak kaki, dan otot-otot penyangga tungkai mengalami adaptasi. Tegangan yang dulu membuat pijatan terasa enak, kini sudah tidak terjadi. Dengan kata lain: tidak ada “ketegangan” besar yang perlu dirilis lagi.

Ketiga, peningkatan produksi endorfin alami.
Lari memicu pelepasan endorfin dan serotonin, dua hormon yang memberi sensasi nyaman dan rileks. Efek ini sering disebut runner’s high. Jika dulu kenyamanan itu harus dicari lewat pijatan, kini tubuh mendapatkannya setiap kali kita menutup sesi lari.

Keempat, sensitivitas saraf berubah.
Pada orang yang aktif berolahraga, stimulus tekanan di titik refleksi sering terasa berbeda. Saraf dan jaringan di telapak kaki menjadi lebih “terlatih”, sehingga pijatan tidak lagi memberi kejutan atau rasa lega seperti sebelumnya.

Perubahan-perubahan kecil ini membuat pijat refleksi bukan lagi menjadi kebutuhan fisiologis bagi pelari. Tubuh sudah menemukan caranya sendiri untuk merilekskan diri.

***

Saat menyusuri koridor menuju pesawat, saya jadi senyum2 sendiri. Ternyata yang berubah bukan tempat pijatnya, tetapi tubuh saya. Hal yang dulu menjadi ritual wajib sebelum terbang, kini tidak memberi efek istimewa.

Semacam paradoks kecil, kebiasaan berlari yang bertujuan menyehatkan tubuh itu, pelan-pelan membuat sebuah kenyamanan lama kehilangan daya tariknya. Saya seperti benar-benar lari dari pijat refleksi. Bukan karena tidak suka, tetapi karena tubuh sudah menemukan bentuk kenyamanannya sendiri.

Dan begitulah, perjalanan mengajarkan hal sederhana namun berarti: ketika kebiasaan sehat hadir, standar kenyamanan pun ikut berubah. Apa yang dulu sangat kita butuhkan, suatu hari terasa tidak lagi mendesak.

Di dalam kabin pesawat yang bersiap lepas landas, saya menyadari, perjalanan kali ini memberi saya pelajaran berarti. Kebiasaan lari bisa mengambil alih peran pijat refleksi. Mudah-mudahan, ini bukan sekedar teori, tapi efek terapi yang dihadirkan oleh sebuah konsistensi.

Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah, atau teruslah berlari.(*)