Jika penuturan mengenai masa pengungsian itu merujuk pada dekade 1950-an, usianya saat ini diperkirakan telah mencapai 70 tahun atau lebih. Ia juga dikenal telah menghabiskan puluhan tahun hidup di lingkungan hutan.
Jauh dari berbagai fasilitas modern, Nenek Igo menjalani kehidupan dengan mengandalkan pengalaman dan keterampilan tradisional. Hutan menjadi lingkungan tempatnya beraktivitas dan memperoleh berbagai kebutuhan hidup.
Kesehariannya digambarkan dekat dengan alam, mulai dari bercocok tanam dan berburu hingga memanfaatkan hasil hutan. Pengetahuan mengenai lingkungan sekitarnya menjadi bagian dari cara hidup yang dijalaninya.
Dalam bagian lain kisahnya, terlihat pula aktivitas pengolahan bahan alami, termasuk pengerjaan kulit kayu. Bahan yang berasal dari lingkungan sekitar diolah dengan cara tradisional, memperlihatkan keterampilan yang berkaitan dengan kehidupan di kawasan hutan.
Aktivitas tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana Nenek Igo menjalani kesehariannya dengan perlengkapan sederhana dan memanfaatkan apa yang tersedia di sekelilingnya.
Pondoknya berada jauh dari keramaian desa. Di sekitarnya, kehidupan berlangsung mengikuti lingkungan alam yang telah lama menjadi tempat tinggalnya.
