Cerita itu hidup berdampingan dengan kisah kesehariannya di kawasan Gunung Tompotika. Di satu sisi, ia dikenal sebagai perempuan yang mengandalkan pengalaman dan keterampilan untuk bertahan hidup. Di sisi lain, namanya menyertai cerita-cerita lokal yang berkembang di tengah masyarakat.
Perjalanan hidup Nenek Igo sendiri terbentang dari kisah pengungsian pada masa kecil, kehidupan sederhana di tengah hutan, hingga pilihannya untuk tetap tinggal di kawasan yang disebutnya sebagai tanah leluhur.
Kini, di tengah lebatnya pepohonan Gunung Tompotika, ia tetap dikenal dengan pesan yang sederhana. Sebuah kalimat yang menggambarkan hubungannya dengan tempat yang telah menjadi bagian dari hidupnya:
“Aku monjaga’i lipu. Hutan leluhur. Jangan dirusak.”
Sumber: Dokumenter kanal YouTube Banggai Basudara, Nenek Igo: Sang Penjaga Alam Tompotika (Part I) dan Nenek Igo: Survivor Gunung (Lipu) Tompotika (Part II).
