Otomotif

Kelangkaan LPG 3 Kg: Rakyat Dipaksa Menanggung Kegagalan Negara

Catatan Parlin Yusuf

Kelangkaan LPG 3 kilogram kembal terjadi. Bukan sekali, bukan dua kali—tetapi berulang seperti pola yang dibiarkan. Di dapur rakyat kecil, ini bukan sekadar isu distribusi, melainkan krisis yang langsung memukul kebutuhan paling dasar: memasak untuk hidup.

Yang lebih menyakitkan, solusi yang muncul justru terkesan sinis: kembali ke minyak tanah dan kayu bakar.

Ini bukan solusi. Ini bentuk kemunduran yang dipaksakan.

Ketika rakyat diminta kembali ke minyak tanah, negara seolah lupa bahwa kebijakan konversi energi dulu dilakukan dengan dalih efisiensi dan modernisasi. Kini, saat LPG langka, arah itu seperti dibalik tanpa rasa bersalah. Minyak tanah yang mahal dan sulit didapat justru dijadikan pelarian. Di mana konsistensi kebijakan?

Lebih parah lagi, kayu bakar mulai disebut sebagai alternatif. Ini bukan sekadar langkah mundur—ini pengabaian terhadap kesehatan dan lingkungan. Asap dapur bukan hal sepele, dan eksploitasi kayu dalam skala besar hanya akan melahirkan masalah baru. Apakah krisis harus dibayar dengan kerusakan yang lebih luas?

Fakta yang tak bisa ditutupi: masalah utamanya ada pada tata kelola yang gagal.

Bagikan: