BANGGAIPOST.COM- Sebagai perusahaan Migas yang beroperasi di Kabupaten Banggai, PT.Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) terus berkomitmen mendorong pengembangan sektor UMKM dan Integrated Farming di daerah ini.
Salah satu karya nyata yang telah digelontorkan melalui program CSR adalah, pemberdayaan UMKM kelompok Ibu-Ibu di Desa Nonong, Kecamatan Batui.
Sementara untuk program Integrated Farming dikembangkan di Desa Tirta Jaya, Kecamatan Toili Jaya. Serta di Desa Sentral Timur Kecamatan Toili.
Melalui program Media Visit, kerjasama Pertamina EP DMF dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Banggai, sejumlah awak media berkesempatan melihat langsung progres usaha tersebut dikembangkan, Minggu 15 Februari 2026.
Kunjungan pertama dilakukan di Rumah Produksi dan Galery UMKM Desa Nonong,Kecamatan Batui.
Ditempat itu, awak media diajak melihat dapur produksi sejumlah produk UMKM Noko Snack yang diketuai Andi Emma. Selanjutnya, tim pendamping UMKM PT Pertamina EP DMF, mengarahkan tim media meninjau pajangan sejumlah produk yang telah dikemas. Diantaranya, Katjang Disco dan Kripik Pisang dengan aneka varian rasa.
“Terimakasih PT.Pertamina EP DMF yang telah membantu peralatan untuk menunjang kegiatan usaha kami,” tutur Andi Emma dalam sambutannya.
Dikatakan, selain bantuan peralatan, PT. Pertamina EP DMF juga memberikan bantuan berupa pelatihan hingga ke luar daerah.
“Alhamdulillah, Kelompok kami juga sering mendapat bantuan mengikuti pelatihan teknik mengolah usaha di luar daerah,”ujarnya.
Adapun produk yang dihasilkan kata dia, selain di jual di seputaran Kecamatan Batui, juga di pasarkan di Kota Luwuk. Seperti di Golden dan Total Mart.
“Sejak dirintis pada tahun 2022, Alhamdulillah, dengan usaha ini paling tidak bisa menambah pendapatan kami di dalam kelompok yang berjumlah 13 orang,”terangnya.
Sementara itu Jamesar Relations Pertamina EP DMF mengatakan, tujuan digelar media visit bersama PWI adalah untuk melihat dari dekat produk UMKM binaan PT.Pertamina EP DMF.
“Nantinya teman-teman juga bisa sharing informasi langsung dari kelompok UMKM binaan PT.Pertamina EP DMF,”ucapnya.
“Sebagai kelompok usaha binaan, selain membantu peralatan dan pelatihan, perusahaan juga membantu pemasaran atas produk yang dihasilkan. Bahkan produk ini sudah masuk pasar ibu kota Jakarta,”tambahnya menegaskan.
Ketua PWI Banggai Abd Saleh di kesempatan itu menyampaikan terimakasih kepada PT.Pertamina EP DMF atas digelarnya media visit ke sentra kelompok binaan perusahaan.
Agenda itu menurutnya merupakan bentuk transparansi Pertamina EP DMF kepada insan pers.
“Ini sangat luar biasa. Kami bisa melihat langsung program program yang digenjot Pertamina EP DMF dalam hal pemberdayaan masyarakat,”ucapnya.
Usai mengunjungi rumah produksi dan Galery UMKM Desa Nonong, selanjutnya tim media PWI bertolak ke Desa Tirta Jaya, melihat langsung budidaya Maggot binaan PT.Pertamina EP DMF.
Konsep usaha yang dikembangkan oleh kelompok Maggot Jaya tersebut dilakukan secara terintegrasi (Integrated Farm). Maggot menjadi pakan ikan, sementara bekas kotoran Maggot (Kasgot) dijadikan pupuk tanaman cabai di kawasan itu. Pakan Maggot sendiri adalah sampah organik bekas makanan yang diambil dari sejumlah rumah makan dan Dapur MBG.
Memasuki lokasi itu tim media melihat langsung tahapan budidaya Maggot. Mulai dari penyiapan induk lalat Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens), penetasan telur hingga produksi Larva.
“Terimakasih kepada PT.Pertamina EP DMS yang telah membantu fasilitas budidaya Maggot yang kami dirikan sejak 2025. Di lahan milik Desa ini semuanya dilakukan secara terintegrasi,”tutur Kepala Desa Tirta Jaya Agus Farhan dihadapan para wartawan.
Dikatakan, melalui program ini cukup membantu kelompok memperoleh pakan ternak dan pupuk untuk tanaman yang lebih ekonomis.
“Maggotnya di jual dengan harga Rp10 ribu sampai Rp12 ribu. Untuk sementara hanya bisa memenuhi kebutuhan di desa saja,”terangnya.
Untuk diketahui, budidaya Maggot Desa Tirta Jaya merupakan Replika dari pusat budidaya Maggot Desa Sentral Timur Kecamatan Toili.
Tim mediapun segera bertolak menuju Desa Sentral Timur. Sesampainya disana, belasan wartawan melihat langsung program Integrated Farming BSF Gen Toili.
Diareal lahan seluas 1 Ha itu terdapat tempat budidaya Maggot, kolam ikan lele, Ikan Mas, Ikan Koi, Tanaman Jagung, Cabai, Tomat dan Terong serta peternakan puyu.
Kepada sejumlah awak media, perwakilan kelompok Syamsul menceritakan ide awal membangun budidaya Maggot.
“Awalnya kita ngumpul begitu sama teman-teman, membahas mahalnya pakan ikan dan ternak. Dari situ muncul ide bagaimana kalau kita coba budidaya maggot,mengatasi mahalnya pakan,” jelas Samsul.
Dari usaha ini kata dia, BSF Gen Toili mampu menyuplai bahan pangan berupa ikan dan sayuran kepada warga sekitar.
Menariknya lagi, warga yang membawa sampah organik mendapat imbalan berupa sayuran hasil kebun kelompok.
“Budidaya ini membutuhkan sampah organik dengan kapasitas cukup besar sebagai pakan Maggot. Warga yang bawa sampah ke kami mendapat imbalan sayuran,”ucapnya.
Iapun menegaskan, usaha ini tidak hanya mengejar profit semata, melainkan melakukan penguatan edukasi kepada masyarakat umum. Khususnya terkait pengelolaan sampah diolah menjadi produk memiliki nilai ekonomi.
“Tempat ini sering di datangi para pelajar mulai dari TK sampai SMA. Dijadikan tempat belajar. Mereka senang melihat kolam, budidaya Maggot, peternakan puyu, dan berbagai tanaman,”terangnya.
“Semua ini atas dukungan dan bantuan PT.Pertamina EP DMF selaku bapak angkat kami,”tutupnya.(Red)












