Ia menilai Argentina memasuki laga final dalam kondisi yang tidak ideal. Sejumlah pemain inti mengalami cedera, stamina tim mulai terkuras setelah melewati pertandingan-pertandingan berat, hingga akhirnya harus bermain dengan 10 orang usai Enzo Fernández menerima kartu merah pada penghujung waktu normal.
Gol Ferran Torres pada babak tambahan menjadi pembeda yang memastikan gelar juara dunia jatuh ke tangan Spanyol.
Meski gagal mempertahankan trofi, Serpa menilai pencapaian Argentina hingga final tetap layak diapresiasi. Keputusan para pemain tetap mengenakan medali perak saat seremoni dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan panjang yang telah mereka lalui.
“Argentina kalah karena Spanyol memang lebih baik. Tetapi tidak ada yang bisa menghapus kebanggaan atas perjalanan luar biasa tim ini,” tulisnya.
Sorotan lain dalam opini tersebut adalah sosok Lionel Messi. Air mata kapten Argentina usai pertandingan disebut menjadi simbol berakhirnya sebuah siklus yang penuh kesuksesan.
Di usia 39 tahun, Messi dinilai masih menjadi jiwa permainan Argentina sepanjang turnamen. Serpa bahkan mengkritik keputusan FIFA yang memberikan penghargaan Ballon d’Or turnamen kepada Rodri.
