EDITORIAL, BANGGAIPOST.COM
Ketika uang di rekening sendiri berubah menjadi angka mati yang tak bisa ditarik, kecemasan bukan lagi sebatas urusan administrasi. Ia telah menjelma menjadi ancaman bagi dapur yang tak lagi mengepul dan warung yang terancam gulung tikar.
Kita tentu turut berempati mendalam atas kesulitan yang mendera ribuan nasabah Bank Sulteng di berbagai pelosok Sulawesi Tengah belakangan ini. Saat kanal transaksi tersendat, yang lumpuh bukan cuma layar ponsel pintar, melainkan urat nadi ekonomi riil yang setiap detik diandalkan rakyat kecil untuk bertahan hidup.
Keluhan yang terus bermunculan ini patut dibaca sebagai alarm darurat. Sebab, gangguan layanan perbankan tidak pernah berhenti sebagai urusan teknis di ruang peladen (server). Dampaknya berpotensi menjalar cepat ke pasar-pasar tradisional, kios kelontong, arus kas UMKM, hingga konsumsi harian rumah tangga. Persoalannya bukan semata angka saldo yang tercatat di atas kertas digital, melainkan kelancaran uang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
