Dengan demikian, pelabuhan Banggai tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlabuhnya perahu. Kawasan ini juga menjadi ruang pertemuan orang, barang, budaya, dan kepentingan perdagangan antarpulau.
Memasuki awal abad ke-20, perubahan politik mulai memengaruhi tata pemerintahan Kerajaan Banggai. Belanda memperluas pengaruhnya melalui perjanjian dengan Raja Abdurrahman pada 1908. Meski berada dalam pengaruh kolonial, kedudukan kerajaan dan aktivitas pelabuhan di Pulau Banggai tetap memiliki arti penting.
Pada masa itu, wilayah Banggai berada dalam struktur pemerintahan swapraja atau zelfbesturend landschap. Dalam perkembangan administrasi berikutnya, sekitar 1924–1926, wilayah Banggai mengalami pembagian administratif menjadi Onderafdeling Banggai Laut yang berpusat di Pulau Banggai dan Banggai Darat yang berpusat di Luwuk.
Pembagian tersebut memperlihatkan perubahan orientasi pemerintahan kolonial, sementara Pulau Banggai tetap menjadi pusat kedudukan raja. Dalam konteks waktu inilah foto Kaudern tahun 1920 menjadi menarik. Dokumentasi tersebut merekam wajah pelabuhan Banggai ketika kerajaan masih mempertahankan kedudukannya di tengah perubahan administrasi kolonial.
Membaca Kehidupan Maritim dari Foto Kaudern hingga Kini
Jika diamati lebih jauh, foto Kaudern memperlihatkan beberapa aspek kehidupan masyarakat pesisir yang menarik untuk ditelusuri.
