Banggai dalam Jejak Perdagangan dan Kekuasaan Nusantara
Yang menarik, jauh sebelum foto Kaudern diabadikan, Banggai sebetulnya telah dikenal dalam catatan sejarah sebagai salah satu wilayah yang terhubung dengan jaringan pelayaran Nusantara.
Nama Banggai tercatat dalam Nagarakertagama tahun 1365, yang memuat sejumlah wilayah di kawasan timur Nusantara dalam gambaran hubungan politik dan geografis pada masa Majapahit.
Memasuki abad ke-16 hingga ke-19, posisi Banggai semakin strategis dalam jaringan pelayaran yang menghubungkan Ternate, Buton, Makassar, Gorontalo, hingga kawasan Teluk Tomini.
Letaknya yang berada di antara jalur perairan tersebut menjadikan Kepulauan Banggai sebagai salah satu tempat persinggahan bagi pedagang dan pelaut dari berbagai daerah.
Beragam komoditas diperdagangkan melalui jalur ini, mulai dari besi yang berasal dari wilayah Tobungku dan Mori, teripang, sisik penyu, sarang burung, damar, rotan, hingga kopra pada periode berikutnya.
Aktivitas perdagangan itu turut menghadirkan pedagang Bugis, Mandar, Buton, Gorontalo, Bajo, Tionghoa, dan Arab. Interaksi antarkelompok tersebut ikut membentuk kehidupan sosial masyarakat pesisir Banggai yang memiliki latar belakang budaya beragam.
