Ini rumus sosial politik yang rasa-rasanya sulit dibantah. Pemilih tidak selalu mengingat siapa paling sering muncul di media sosial. Tapi mereka sangat ingat siapa yang membantu anaknya kuliah. Mereka ingat siapa yang mempermudah pengobatan keluarganya dll. Karena itu, siapapun penantang pada Pilgub 2029 atau 2030 nanti harus siap menghadapi pertarungan yang berat–jika tidak ingin disebut “berdarah-darah” untuk menumbangkan petahana.
Namun…, politik lokal tidak sesimpel itu. Meski program “Berani” menunjukkan progres dan mulai dirasakan sebagian kelompok masyarakat, jangkaunnya masih terbatas dibandingkan total populasi Sulteng yang mencapai lebih dari tiga juta jiwa.
Keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada konsistensi pendanaan, tata kelola, dan keberlanjutan program di tengah berbagai tantangan daerah seperti kemiskinan, dampak pertambangan. Pun di tengah tekanan fiskal daerah yang kian kuat menyusul program efisiensi nasional.
Petahana memang memiliki keunggulan kompetitif bawaan (incumbency advantage) yang kuat, tapi sejarah juga menunjukkan bahwa incumbent bisa tergeser jika muncul isu korupsi, penurunan kinerja ekonomi, atau penantang mampu menawarkan narasi dan program yang lebih segar serta menyentuh kelompok yang belum merasakan manfaat secara maksimal. Anwar juga sudah membuktikan itu saat mengalahkan Rusdi Mastura (incumbent).
