Sepekan lalu saya didatangi seorang anak muda visioner. Ia memiliki pandangan luas tentang masa depan Kabupaten Banggai. Bukan orang partai politik, tetapi memiliki akar pergaulan dan irisan yang kuat di dunia aktivisme dan organisasi kepemudaan. Saya tidak perlu menyebut namanya. Yang menarik justru ide-idenya.
Kami berbincang panjang tentang Banggai. Tentang kekayaan sumber daya alam yang selama ini lebih sering dibanggakan daripada benar-benar dioptimalkan. Tentang gas, industri hilir, kawasan pesisir, perikanan, perkebunan, hingga peluang investasi yang menurutnya dapat menjadi fondasi kemandirian fiskal daerah.
Saya tertarik ketika ia mulai mengurai angka-angka. Namun ketika pembicaraan beralih ke politik, minat saya mulai menurun.
Pilkada masih empat tahun lagi. Terlalu dini. Peta politik Banggai selama ini tampak relatif sederhana: dua kutub besar mendominasi. Di satu sisi kekuatan petahana yang berpusat pada dinasti dan jaringan politik keluarga Tamoreka. Di sisi lain kelompok yang dalam Pilkada 2024 bernaung di bawah figur Sulianti Murad. Kedua kubu ini telah membentuk basis dukungan yang solid.
Karena itulah saya menganggap pembicaraan tentang Pilkada 2030 belum terlalu menarik.
Tetapi anak muda itu rupanya melihat sesuatu yang berbeda.
