BANGGAIPOST.COM
Pernah memanggil anak berkali-kali tetapi tak mendapat respons karena matanya terpaku pada layar ponsel? Atau melihat mereka terus berpindah dari TikTok ke Instagram, lalu membuka YouTube sambil membalas pesan dan bermain gim secara bersamaan?
Bagi banyak orang tua, pemandangan seperti ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi rangsangan digital tanpa henti dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai popcorn brain—kondisi ketika otak terbiasa bekerja dalam ritme serba cepat sehingga sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan fokus dan kesabaran.
Meski belum diakui sebagai diagnosis medis resmi, istilah ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan dampak paparan teknologi digital yang berlebihan terhadap kemampuan konsentrasi, pengendalian emosi, hingga perkembangan kognitif anak.
Otak Terbiasa Mencari Rangsangan Baru
Istilah popcorn brain diperkenalkan oleh David M. Levy, profesor ilmu komputer dari University of Washington. Ia menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan otak yang terus “meletup” seperti jagung menjadi popcorn akibat dibanjiri informasi dan hiburan digital yang datang silih berganti.
