Padahal, sebelumnya Pemkab Banggai bersama DPRD juga telah membahas strategi penyelamatan fiskal sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan keterlambatan dana transfer dari pemerintah pusat. Artinya, pemerintah daerah menyadari adanya tantangan fiskal. Namun pada saat yang sama, APBD masih dapat mengakomodasi pembangunan proyek olahraga bernilai puluhan miliar rupiah.
Tidak ada yang salah dengan membangun fasilitas olahraga.
Kolam renang dapat menjadi sarana pembinaan atlet, meningkatkan budaya olahraga masyarakat, bahkan berpotensi menjadi aset daerah apabila dikelola secara profesional.
Namun setiap APBD selalu berbicara tentang pilihan.
Setiap rupiah yang dialokasikan untuk satu program berarti tidak digunakan untuk program lainnya. Karena itu, yang paling penting bukan sekadar kemampuan membelanjakan anggaran, melainkan keberanian menetapkan prioritas yang paling dibutuhkan masyarakat.
Di sinilah Jembatan Masungkang menjadi relevan.
Jembatan itu bukan sekadar proyek fisik. Ia menjadi penghubung aktivitas masyarakat, jalur anak-anak menuju sekolah, akses menuju pelayanan kesehatan, sekaligus urat nadi pergerakan ekonomi warga di wilayah tersebut.
Karena itu, ketika muncul informasi bahwa pembangunan jembatan tersebut akan menggunakan dana pribadi Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, masyarakat tentu mengapresiasi niat baik tersebut.
Namun apresiasi itu seharusnya disertai rasa malu.
